Mungkin Tuhan sengaja mahu kita berjumpa dgn orang yg salah sebelum menemui insan yg betul supaya apabila kita akhirnya menemui insan yg betul, kita akan tahu bagaimana utk bersyukur dgn pemberian dan hikmah disebalik pemberian tersebut. Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yg lain akan terbuka tapi selalunya kita akan memandang pintu yg telah tertutup itu terlalu lama hinggakan kita tidak nampak pintu lain yg telah pun terbuka untuk kita.
allah maha mengetahui yang baik
Kadang-kadang ALLAH hilangkan sekejap matahari
kemudian dia datangkan pula guruh dan kilat. Puas kita mencari di mana matahari, rupa-rupanya ALLAH ingin memberikan hadiah kepada kita pelangi yang indah
selamat datang di blog saya
tinggalkan pesan sebelum pergi
Jumat, 16 April 2010
ARTI KHATAMAN-NABIYYIN
Kata “Khatam”
1. Allamah Az-Zarqani: “Sebagus-bagus Nabi dalam hal kejadian dan dalam hal akhlaq.” (Syarh Al-Mawahibul Laduniyah, Juz III, hal. 163).
2. Allamah Ibnu Khaldun: “Nabi yang mendapat Kenabian yang sempurna.” (Muqadimah Fatsal 52).
3. Abu Hasan Asy-Syarif Ar-Ridha: “Penjaga bagi syariat, pengumpul bagi ajaran dan tanda-tanda, cap atau stempel.” (Takhsinul Biyan Fii Majaazatil-Quraan, hal. 191-192).
4. Asy-Syech Bali Effendi: “Tidak ada sesudahnya Nabi yang membawa syariat dan tidak menghalangi adanya Nabi Isa di belakang beliau.” (Syarh Fususul-Hikam, hal. 56).
5. Menurut ahli Lughot `Arab: “Paling mulia”. (Miratusy-Syuruh, hal. 38).
6. Kamus Quran Imam Ar-Raghib: “Stempel.” (Di bawah kata “khatam”).
7. Allamah Abdul Fadhli: “Kebagusan atau perhiasan.” (Gharibul-Quraan Fii Lughatil-Quraan).
8. Lembaga Bahasa IAIN Syarif Hidayatullah: “Cincin”. (Al-`Arabiyyah Bin Namaazij, hal. 149).
9. Allamah Imam `Ali Al-Qori: “Tidak ada Nabi sesudahnya yang akan membatalkan agamanya, dan Nabi yang bukan dari umatnya.” (Maudhuat Kabir,
hal. 59).
10. Maulana Jalaluddin Rumi: “Limpahan karunia Tuhan tidak akan menyamai beliau saw. baik sebelumnya atau yang akan datang.” (Matsnawi, Jilid VII, hal. 8).
11. Waliyullah Syah Muhaddits Delvi, Mujaddid Abad XII: “Tidak didapatkan seseorang yang seperti beliau yang Allah utus kepada manusia sebagai pembawa syariat.” (Tafhimatul Ilahiyyah, Jilid II, hal. 72; APB, hal. 204).
12. Syech Abdul Qadir Al-Rustani: “Setelah beliau saw., tak dibangkitkan seorang Nabi pembawa syariat baru.” (Taqribul-Maram, Jilid II, hal. 233; AKN, hal. 13).
13. Maulana Abu Hasanat Abdul Hayye: “Setelah pribadi Rasulullah saw., tidak tertutup kemungkinan adanya Nabi kecuali pembawa syariat baru.” (Dafi’ul Was-waas, hal. 16; AKN, hal. 13).
14. Ahli Tasawuf, Mirza Madhzar Jan Jana (wafat, 1781): “Selain pembawa syariat sempurna, bagi Allah tidak ada penghalang adanya Kenabian lain.” (Maqamat Mazhari, hal. 88; AKN, hal. 14).
15. Syech Abu Said Mubarak Ibn Ali Mahzumi (wafat, 513 H): “Manusia yang paling sempurna.” (Tuhfah Mursalah Syarif Materjam, hal. 51; AKN, hal. 21).
16. Sufi Abu Abdullah Muhammad bin Ali Hussain Al-Hakim At-Tarmidzi (wafat, 308 H): “Nabi terakhir dalam hal kedatangan tiada keistimewaan, ini adalah ta’wil orang-orang bodoh dan jahil.” (Kitaab Khaatamul-Auliyaa’, hal. 341; AKN, hal. 21).
17. Maulana Muhammad Qosim Nanotawi (wafat, 1297 H): “Kedudukan terpuji.” (Tahzirun-Naas, hal. 3; AKN, hal. 22).
18. Imam Fachruddin Ar-Razi (wafat, 544 H): “Harus berarti paling mulia.” (Tafsir Kabir, Jilid VI, hal. 31).
19. Sayyid Abdul Karim Jailani (wafat, 767 H): “Pembawa kesempurnaan.” (Insaanul-Kamiil, Bab 36, Jilid X, hal. 69).
20. Tafsir Shafi, hal. 111: “Paling mulia.”
21. Tafsir Majma’ul Bahrain, di bawah ayat “khataman-nabiyyin”: “Rasulullah saw. adalah perhiasan bagi para Nabi.” IN 76
22. Tafsir Fat’hul-Bayan, Jilid VII, hal. 286: “Cincin bagi para Nabi.” IN 81
23. Imam Qasthalani menulis dalam Syarh Bukhari: “Penyempurnaan syariat-syariat agama (Irsyad Assari Qasthalani, Jilid VII, Bab “Khataman-Nabiyyin”, hal. 256) dan turunnya Nabi Isa a.s. tidak bertentangan khataman-nubuwwat, sebab, ia ada pada agama beliau saw. (Syarh Bukhari, Jilid VII, hal. 255). IN 81
24. Akmal Addin, hal. 375 adalah kitab orang Syiah: “Kedatangan pemberi petunjuk dari antara Nabi-nabi dan Wali-wali, sekali-kali tidak boleh tertutup selagi manusia belum mengamalkan hukum-hukum Allah.” IN 82
25. Tafsir Al-Qummi, hal. 33: “Allah Taala mengambil air, lalu berfirman, Aku akan tetap menjadikan Nabi dari-mu, menjadikan Rasul, orang-orang Saleh, Imam-imam pemberi petunjuk…” IN 82
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar