allah maha mengetahui yang baik

Kadang-kadang ALLAH hilangkan sekejap matahari kemudian dia datangkan pula guruh dan kilat. Puas kita mencari di mana matahari, rupa-rupanya ALLAH ingin memberikan hadiah kepada kita pelangi yang indah

selamat datang di blog saya

tinggalkan pesan sebelum pergi

Selasa, 23 Maret 2010

Nubuwwah dan Walayah: Sebuah Keniscayaan Kemanusiaan (Kenabian dan Imamah dalam Perspektif Perennial)

Berpikir tanpa berguru itu berbahaya, berguru tanpa berpikir itu sia-sia.
(Nabiullah Lao Tze, as)

A. Mukaddimah

Dalam hidupnya, manusia selalu digelisahkan oleh empat pertanyaan ultim. Siapa dia?, dari mana dia?, ada di mana dia?, dan akan kemana dia?. Kumpulan pertanyaan sederhana, namun penuh makna, pertanyaan biasa, namun jawaban tuntasnya hanya akan tersampai, ketika kita moksha. Dunia adalah lingkaran samsara, tiap-tiap perbuatan meniscayakan konsekuensi karma pala. Tapi, sejatinya manusia ingin selalu menyempurna, baik raga maupun jiwa. Namun, apanyana, jasmani dibelit dukha (hasrat). Suara fitrah dikedalaman nurani terus memanggil, menyeru pada kesejatian Brahman yang menitis dalam wujud atman. Suara itu tak jauh, dia ada di sini, di dalam diri. Hanya saja bising dunia memalingkan kebanyakan manusia, dari kesejatiannya sendiri.

Kebanyakan manusia memang berpaling, merasa nyaman dengan kegilaannya, merasa arogan dengan kebodohannya, merasa nikmat dengan ketertindasannya, merasa tentram dengan keterpisahan eksistensialnya. Lalu, akankah ini terus dibiarkan, hingga manusia tanpa sadar terbenam dalam lumpur kenistaan?. Tidak, kalki autar (avatar) harus turun, Adibudha mesti menitis, Firman harus menjelma, Ruh kudus mesti berinkarnasi, sang nabi suci harus datang meneriakkan suara kebenaran Ilahiyah. Untuk apa? Untuk membebaskan manusia!!!

Firman itu telah menjadi daging dan hidup diantara kita.
(Injil Yohanes 1 : 14)

B. Nubuwwah antara Maqam dan Misi Suci

Aku tidak menciptakan apapun, aku hanya menceritakan “masa lalu”
(Nabiullah Kung Fu Tze as)

Siapakah sesungguhnya nabi yang avatar itu?. Dia manusia biasa (basyaru mitslukum) yang luar biasa. Manusia sederhana yang istimewa. Anak manusia yang biologisnya makan, minum, tidur, dan kawin, namun jiwanya menanjak naik menembus petala-petala alam-alam suci. Meninggalkan alam kama, melampaui alam rupa, dan menembus alam firman (arupa). Sampailah jiwanya ke alam kesejatian, dan atmannya beraudiensi dengan Sang Brahman. Tersingkaplah berita besar (naba’) dari alam yang agung (alam wahidiyah). Berita agung itu mengabarkan tentang kesejatian wujud yang ultim dengan keseluruhan gradasinya, yang beritanya dapat dicerna oleh nalar, dan gelombang syahdunya menenangkan nurani yang gelisah. Nubuwwah adalah maqam yang agung. Maqam firman yang tersingkapkan (lauh al-mahfudz), maqam bodhisatva tersngkaplah vidya yang disenandungkan dalam bait-bait gita suci. Maqam moksha yang membebaskan jiwa dari lingkaran samsara, maqam Tao yang dilimpahi cahaya.

Firman agung atau vidya suci itu terwujud dalam risalah darma (syariat), tertuang dalam pitaka (kitab suci) yang harus dituturkan dalam bahasa manusia oleh seorang avatar yang ummi. Itulah nubuwwah sebagai tugas suci yang menyenandungkan kidung agung dilembaran Veda dan Mazmur (Zabur). Yang mengingatkan manusia akan kesejatian Tao dalam dirinya seperti yang termaktub dalam Upanishad dan Tao Te Ching. Yang menyadarkan manusia akan perintah dan larangan yang tertuang dalam Taurat, Yang menyeru pada keharmonisan, kasih, dan pengkhidmatan seperti yang tertera dalam kitab Su Shi dan Injil. Yang menuntun moral berdasarkan tingkatan kemanusiaan seperti yang tertoreh dalam tri pitaka. Yang memperingatkan manusia akan pertarungan abadi antara cahaya dan gelap dalam diri, laksana Zend Avesta. Dan yang merangkum petunjuk sejati nan abadi yang terwujud dalam Alquran al-Karim. Nubuwwah adalah misi suci untuk mengembalikan manusia pada kesuciannya.

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia
(Rasulullah Muhammad saww)

C. Nubuwwah, Keniscayaan Fitrah, dan Bimbingan ilahiyah

Dengan mengetahui Tao di masa lalu, kaku akan menguasai eksistensi hari ini. (Nabiullah Lao Tze as)
(Tetaplah atas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitraNYA itu (QS; 30 : 30)

Nubuwwah adalah maqam suci kemanusiaan yang merupakan refleksi atas fitrah manusia yang mendamba kesucian, kesempurnaan, dan keabadian. Nubuwwah adalah capaian moksha menuju nirwana yang membuat manusia terbebas dari belenggu kebinatangan yang melenakan. Nubuwwah merupakan keniscayaan fitrah manusia yang mendamba penyatuan dengan Sang Kekasih yang telah menciptakan manusia berdasarkan “FitrahNYA”. Nubuwwah juga meniscayakan tuntutan primordial fitrah akan capaian kebenaran sejati dan petunjuk ultim. Kebenaran sejati dan petunjuk ultim tersebut “tersimpan” dalam “lembaran suci” di “sisi” Ilahi. Nubuwwah adalah petunjuk kebijaksanaan sejati yang mengantarkan manusia pada eudomania (kebahagiaan eternal) yang selalu dirundukan oleh jiwa-jiwa yang “terpisah”. Nubuwwah adalah refelski primordial fitrah yang mengingatkan manusia bahwa dunia hanyalah permainan dan sandiwara. Nubuwwah membuat manusia tersadar akan kesejatian jiwanya yang bermuara pada Wujud Ultim Yang Tak Terhingga.

Tersampainya manusia pada Nubuwwah tak lepas dari hidayah Ilahi yang menyempurnakan ikhtiyar hamba-hambaNYA yang terpilih, hinga sampailah sang hamba terpilih tersebut pada penyingkapan akan RahasiaNYA. Dihubungkan dengan umat manusia secara umum, nubuwwah adalah perwujudan Kasih Sayang dan KeadilanNYA yang diaktualkan dalam sifat al-Hadi (bimbingan) guna menuntun manusia keluar dari labirin keterlenaan duniawi yang serba pura-pura. Nubuwwah adalah manifest Wisnu Sang Pemelihara yang menuntun manusia manusia untuk tampil memelihara diri dan dunianya. Nubuwwah merupakan lakon tampilnya manusia-manusia terpilih yang telah mencapai moksha dan menjadi avatar untuk menjadi da’i yang bertugas menyeru manusia pada bimbingan Ilahi.

Jika suara fitrah dan godaan dunia memanggil, pada yang manakah kau kan palingkan wajahmu? (Barack al-Raniri)
Tugasku diutus ke dunia adalah untuk membimbing manusia pada pertarungan yang baik untuk mencapai kebaikan sejati
(Nabiullah Kresna as)

D. Nubuwwah dan Walayah

Barangsiapa yang mati tanpa mengenal imam di zamannya, dia mati jahiliyah. (Rasulullah saww)

Maqam nubuwwah adalah maqam kesucian di mana tersingkapnya berita agung akan RahasiaNYA yang mencakup keseluruhan semesta. Peran kenabian adalah peran da’i yang menyeru manusia pada kebenaran. Nmun, peran nubuwwah an sich tidak mencakup peran atau wala’ kepemimpinan (imamah), mahabbah (kecintaan), zi’amah (penanggungjawab), tasarruf (penguasaan), dan batiniyah. Itulah sebabnya, di atas nubuwwah ada satu jenjang tertinggi yang memanifestasikan ultimate goal penciptaan manusia, sebagai khalifahNYA atas semesta raya.

Walayah merupakan maqam tertinggi yang dicapai oleh seorang manusia. Yaitu, di satu sisi berhubungan dengan kekuatan manusia yang tersembunyi untuk mencapai kesempurnaan dan sisi lain berhubungan dengan ikatan yang ada antara seorang manusia dengan Allah. Maqam wilayah merupakan maqam puncak yang karenanya orang yang mencapai maqam tersebut mendapatkan pendelegasian sebagai mandataris Tuhan atas semesta dan menjadi pemimpin spiritual bagi seluruh manusia. Kemestian akan senantiasa adanya sosok manusia sempurna yang tampil menjadi pemimpih kafilah ruhani manusia, didasarkan pada asumsi akan fundamennya kebutuhan manusia akan pencapaian spiritualitas. Oleh karena dalam melakukan perjalanan spiritual seorang manusia tak mungkin berjalan sendiri tanpa pembimbing spiritual yang telah mencapai taraf kesempurnaan sejati. Maka hadirnya seorang manusia sempurna sebagai pemimpin spiritual merupakan sebuah kemestian dan perwujudan keadilan Tuhan kepada manusia. Imam adalah seseorang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin jalan wilayah. Dialah yang memegang kendali wilayah esoteris di tangannya. Lebih dari seorang nabi yang menyeru dan menyampiakan berita agung kepada manusia, imam adalah pusat “sinar-sinar wilayah” yang memantau hati manusia dan menjadi pemimpin kafilah ruhani manusia yang menjadi penyaksi dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan manusia di hadapan Sang Maha Penghisab. Itulah sebabnya seorang Imam kedudukannya lebih tinggi dari seorang nabi (yang bukan imam).

Kami (para imam) adalah hujjah bagi seluruh semesta dan Fatimah adalah hujjah bagi kami. (Imam Ja’far bin Muhammad al-Shadiq as)

E. Khatimah

Reguklah air dari al-Kautsar
Mandilah dan sucikanlah noda dari kejernihan Gangga
Datangilah Yohanes sang pembaptis di sungai Yerussalem.
Kecuplah cincin al-Husein
Minumlah anggur dari cawan suci di perjamuan terakhir
Lalu berlarilah bersama anak rusa di taman Kapilawatu
(Barack al-Raniri)

Nubuwwah atau falsafah kenabian merupakan keniscayaan rasional dan jawaban atas panggilan suci kemanusiaan. Nubuwwah bukanlah ajaran doktrin yang memenjarakan dan mengajarkan manusia untuk menistakan sesamanya. Tapi, nubuwwah adalah seruan suci pada kesucian hati dan kedamaian jiwa untuk makmurkan dunia. Namun, nubuwwah tanpa walayah adalah sia-sia, karena tanpa walayah, ultimate goal penciptaan manusia menjadi tak terlaksana. Dengan menghayati nubuwwah kan kita capai pengetahuan, dan dengan tunduk pada walayah kita kan sampai pada kesempurnaan sejati.

Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi Sayyidina Muhammad. Wa ajjil Farajahum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger

art

art
rose

menara putih

menara putih
The White Minaret at Qadian

baihisti maqbarah

baihisti maqbarah
pekuburan ahmadiyyah

jamaah ahmadiyyah

jamaah ahmadiyyah
rabwah

ahmadiyyah

ahmadiyyah
jalza salanah

ahmadiyyah

ahmadiyyah
rabwah