allah maha mengetahui yang baik

Kadang-kadang ALLAH hilangkan sekejap matahari kemudian dia datangkan pula guruh dan kilat. Puas kita mencari di mana matahari, rupa-rupanya ALLAH ingin memberikan hadiah kepada kita pelangi yang indah

selamat datang di blog saya

tinggalkan pesan sebelum pergi
Loading...

Minggu, 22 Mei 2011

Rabu, 05 Mei 2010

ADAM BUKANLAH MANUSIA PERTAMA

Adam Bukan Manusia Pertama
Adam (berarti tanah, manusia, atau cokelat muda; bahasa Ibrani: אָדָם; bahasa Arab: آدم) atau Nabi Adam a.s. dipercaya oleh agama-agama Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan istrinya, Hawa. Merekalah orang tua semua manusia di dunia. Rincian kisah mengenai Adam dan Hawa berbeda-beda antara agama Islam, Yahudi, Kristen, maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.

Benarkah Adam manusia pertama ? Sekali lagi benarkah Adam manusia pertama ?
Hampir semua orang yang kita tanya dengan pertanyaan "siapa manusia pertama di dunia ?" Dapat kita pastikan jawabannya adalah : Adam !

Namun, benarkah pernyataan tersebut yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama di dunia ini. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Mayoritas menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Dan hanya sebagian kecil atau minoritas yang menyatakan bahwa Adam itu bukan manusia pertama di dunia ini. Berarti sebelum Adam diturunkan di dunia ini sudah ada manusia yang menghuni bumi ini.

Mari kita kaji dan cermati bersama masalah tersebut.
Dalam situs UnICoM Universal Communication dengan alamat http://www.huttaqi.com ada artikel yang menarik dengan judul "Mengenal Awal Kejadian Manusia" oleh Huttaqi yang disampaikan pada Kajian Bulanan di Al Azhar Jakarta. Secara lengkap saya kutip sebagai berikut : Mengenal Awal Kejadian Manusia
Disampaikan pada Kajian Bulanan di Al Azhar Jakarta
Oleh :
Huttaqi

I. Masa-masa awal sejarah Manusia yang kita kenal
Ada 3 Pendapat (mungkin lebih) tentang manusia pertama ini :
1. Pendapat Umum (Mayoritas) Bahwa Adam adalah manusia pertama
Beberapa dasar :
a. Allah berfirman :
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS An Nisa 1)

b. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(QS Al Baqarah: 30)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
(QS Al Baqarah :31)

2. Pendapat sebagian orang (Minoritas) bahwa Adam bukan manusia pertama
Dasar-dasar:
a. Firman Allah
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(QS Baqarah :30)

Pemahaman “Khalifah” itu dipahami bukan “wakil” melainkan diartikan sebagai “pengganti” dasarnya : Dia-lah yang menjadikan kamu (pengganti-pengganti) khalifah-khalifah di muka bumi. (QS Fathir:39)
Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.(QS Yunus: 14)

Dalam Kitab Al Mufrodat Alfadhil Quran bab huruf kha hal. 157:
“Dan yang dinamakan kholifah ialah ganti dari yang lainnya, sama juga yang diganti itu memang karena tidak hadir atau yang diganti itu karena mati atau yang diganti itu karena udzur,dll”

Atau di dalam tafsir ibnu Katsir (hal 104)
“Yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun dan generasi demi generasi”.

Tetapi tidak dapat dipahami bahwa yang “digantikan” itu adalah Allah, sebab :
Allah tidak berhalangan/udzur, tidak mati, dan bukannya tidak bisa melaksanakan,dll.
Jika Adam itu menggantikan Allah maka dia harus memiliki sifat2 yang menyerupai Allah. Tidak mungkin sesuatu yang tidak sempurna menggantikan sesuatu yang sempurna. Demikian menurut ibnu Katsir.

Sedangkan “kholifah” dalam arti wakil, kata Ibnu Katsir, sudah pasti tidak bisa dipakai sebab manusia tidak layak sebagai wakil Allah, malah sebaliknya Allahlah sebagai khalifah atau wakil (penolong) dasarnya :
“Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”
(Ali Imran:173, Hud:12, At Thalaq:3, An Nisa:81)
Tidak ada satupun di alQuran maupun di Hadits Nabi yang mengatakan bahwa manusia merupakan Kholifatullah. Allah hanya menyebutkan “kholifah” saja.

Menurut Al Quran :
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (QS Yunus:13-14)

2. Dari mana malaikat itu tahu bahwa “Kholifah” itu akan menumpahkan darah ?
Alloh berfirman di dalam Surat al-Baqarah :30
"Wa idzqoola robbuka lil malaikati inni ja'ilun kholifah fil ardhi"
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat,"Sesungguhnya Aku akan menjadikan kholifah (Adam) dimuka bumi".

"qooluu ataj'alu fiiha mayyufsidu fiiha wa yasfikuddimaa wa nahnu
nussabbihu bihamdika wa nuqaddisu lak"
"Para malaikat bertanya,"Mengapa Engkau hendak menempatkan dipermukaan
bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah ?,sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan mensucikanMu ?
"qoola inni a'lamu maa laa ta'lamun"
Alloh berfirman,"Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui"

Perhatikanlah, bagaimana Malaikat bisa tahu bahwa "Adam adalah makhluk yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah" ?
Ada 3 kemungkinan malaikat bisa tahu bahwa "Adam adalah makhluk yang
akan membuat bencana dan menumpahkan darah".
1. Malaikat memiliki kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi.
2. Malaikat diberitahu oleh Alloh.
3. Malaikat sudah pernah melihat hal yang serupa itu terjadi.

kemungkinan yang pertama,
"1. Malaikat memiliki kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi."
hal ini tidak mungkin sebab dibantah para malaikat sendiri di dalam
ayat alqur'an sendiri,
QS Baqarah :32 "Qooluu subhanaka laa ilma lanaa illaa maa 'alamtanaa innaka antal
alimul hakiim"
"Para malaikat menjawab,"Maha suci Engkau Ya Alloh, kami tidak mempunyai ilmu, hanya sebatas yang pernah Engkau ajarkan kepada kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Tahu dan Maha Bijaksana"
Dari ayat tersebut di atas, jelas, bahwa malaikat tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan.

Kemungkinan yang ke 2,
Malaikat mengetahui akan hal itu sebab diberitahu oleh Alloh,
Tetapi hal ini dibantah di dalam ayat tersebut yaitu, QS Al Baqarah:30
"qoola inni a'lamu maa laa ta'lamun"
Alloh berfirman,"Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu
ketahui". Jadi dalam hal ini, Alloh tidak memberitahu malaikat bahwa manusia
adalah makhluk yang membuat bencana dan menumpahkan darah.

Maka jelas, bahwa kemungkinan kemungkinan yang ketigalah yang berlaku,
yaitu bahwa Malaikat bertanya kepada Alloh,,"Mengapa Engkau hendak menempatkan dipermukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah ?,
adalah sebab sudah pernah ada kejadian yang seperti itu.Sudah pernah ada makhluk yang seperti Adam, yaitu sudah pernah ada manusia sebelumnya.

3. Firman Allah :“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS Ali Imran:33)

4. Firman Allah : Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.(QS Ali Imran:59)

Menurut ilmu pengetahuan :
a. Di puncak Big Hill Pegunungan Cumberland di Jackson County Kentucky, terletak lapisan batu pasir dari zaman karbon. Di tahun 1880-an batu itu dilindas roda kereta yang lewat sehingga suatu ketika permukaan batunya pecah. Ketika remukan akibat pecahan itu sudah tidak menutupi lagi, sederetan jejak ditemukan di atas lapisan karbon berusia sekitar 300 Juta tahun (sebelum perkiraan waktu adanya Adam), Jejak-jejak yang ditemukan adalah dua jejak manusia, ukuran baik, ibu jari terbuka lebar dan mempunyai tanda yang amat jelas. Jejak ini diperiksa oleh PRof. JF Brown dari Berea College,
Kentucky. (kutipan dari The American Antiquarian, 7:39, Januari 1885)

b. Sepasang jejak kaki manusia (ada fotonya, sama dengan jejak kaki manusia biasa bentuknya) pernah menghiasi lempengan batu kapur di tepi barat Sungai Mississippi di St. Louis. Di tahun 1816 atau 1817, lempengan itu digali dari posisinya dan dipindahkan oleh Bp. George Rappe ke desa Harmony (sekarangNew Harmony Indiana). Panjang jejak itu 10 inc dan lebar 4 inc di jari kaki, terpisah 6 inc di tumit, dan 13 inc di jari kakinya, menurut laporan Henry R. Schoolcraft, "jari-jari kaki amat terbentang, dan telapak kakinya rata seperti yang akan terjadi pada mereka yang terbiasa lama tidak mengenakan sepatu. Walaupun keadaannya seperti itu, jejak tersebut mencolok amat alami, menunjukkan rincian otot, dan membengkaknya tumit serta jari-jari kaki, dengan ketepatan dan kebenaran alami, yang tidak dapat saya salin, dengan tepat, dalam gambar ini.... (maaf gambar tidak bisa saya scan) Penelitian dari segala segi akan menjamin kesimpulan bahwa jejak ini terbuat pada waktu batu ini masih cukup lunak sehingga tekanan akan membentuk jejak tersebut dan bahwa jejak kaki ini alami dan asli. Dalam skema geologi, batu kapur ini mengeras sekitar 270 juta tahun yang lalu (jauh sebelum perkiraan adanya Adam). Batu dan jejak kaki dikatakan mengalami bukti keausan
dan penuaan yang sama. (dikutip dari The American Journal of Science and Arts,1:5:223-31,1882)

c. Fosil jejak kaki yang mungkin tertua yang sudah tersingkap ditemukan di bulan Juni 1968 oleh William J. Meister seorang kolektor fosil. Diperkirakan jejak kaki itu berumur sekitar 300-600 juta tahun yang lalu juga dengan bukti pendukung adanya seekor tribolet yang ada jejak fosilnya di bawahnya (seolah tribolet itu terinjak jejak kaki tsb). Tribolet adalah invertebrata laut berukuran kecil, kerabat dari udang dan kepiting yang banyak dijumpai sekitar 320 juta tahun yang lalu sebelum punah 280 juta tahun yang lalu. Hal yang sangat aneh, adalah jejak kaki manusia itu mengenakan alas kaki sederhana.... Ditemukan di Antelope Spring, 43 mil di barat Delta, Utah. (Ada gambarnya tapi tidak saya scan)Tanggal 20 Juli 1968, seorang geologi dari Tucson Arizona Dr. Clifford Burdick, meneliti jejak itu dan ditemukan jejak menumpuk di atas alas kaki itu seperti jejak seorang anak-anak. (kutipan Creation Research Society Quarterly, Desember 1968) dan masih banyak bukti-bukti penemuan tentang jejak kaki yang berumur puluhan juta bahkan ratusan juta tahun yang lalu.
Perkiraan adanya Adam menurut Doktor Adil Thoha Yunus di dalam bukunya, Hayat Al-Anbiya Bayna Haqoiq at Tarikh wa al Mukasyafat Al-Atsariyyah al-Jadidah) adalah sekitar 600 tahun sebelum masehi, ini didasarkan keterangan dari kitab Taurat yang tertua, transkrip Yunani yaitu masa antara Adam sampai al Masih, tepatnya adalah 5872 tahun.

3. Pendapat lain tentang manusia pertama:
Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur'an :
1. Ya ayyuhannaasuttaquu Robbakumul ladzii kholaqokum min nafsin waahidatin wa kholaqo minhaa zaujahaa wabats-tsa minhumaa rijaalan katsiiron wa nisaa-an (Q.S.4, An-Nisa' :1). Artinya : Wahai seluruh manusia, takutlah kamu semua kepada Tuhan mu yang menciptakan kamu semua dari DIRI YANG SATU(berjenis wanita) dan dari wanita yang satu itu Alloh menjadikan suaminya kemudian dari wanita dan laki-laki kedua-nya itu Alloh mengembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.
2. Huwalladzii Kholaqokum Min nafsin Waahidatin, wa ja'ala minha zaujaha liyaskuna ilaiha. (Q.S.7, Al-A'rof :189). Artinya : Dialah yang telah menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU(wanita) dan dari pada wanita itu dijadikannya suaminya.
3. Huwalladzii ansya-akum min nafsin waahidatin….. (Q.S.6, Al-An'am : 98). Artinya : Dan Dialah yang menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU (berjenis wanita).
4. Kholaqokum min nafsin waahidatin tsumma ja'ala minha zaujahaa.. (Q.S.39, Az Zumar :6). Artinya : Dia menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU (wanita) kemudian dijadikan dari wanita yang satu itu suaminya.
Dalam ayat-ayat tersebut di atas ada kalimat "…Nafsin Waahidatin.." yang artinya "…diri yang satu..". Waahidun artinya satu dan Waahidatun artinya juga satu.
Tetapi di ayat Qur'an itu dipilih oleh Alloh adalah kalimat (kata) Waahidatun yakni ada huruf " TA" marbuthoh-nya, yakni SEBAGAI TANDA WANITA.

Jadi ini menurut Al-Qur'an surat An Nisa', Surat Al-Arof, Surat Az-Zumar dan Surat Al-An'am bahwa MANUSIA PERTAMA ITU BERJENIS WANITA bukan laki-laki. Dan kalau begitu manusia pertama bukan lah Adam karena Adam itu seorang laki-laki. Tentang nama manusia pertama yang berjenis wanita ini tidak ada keterangan dalam Qur'an.
Setelah manusia pertama yang berjenis wanita/perempuan itu kemudian Alloh menciptakan manusia yang ke dua. Adapun manusia yang kedua adalah berjenis laki-laki yang namanya juga tidak diterangkan dalam Al-Qur'an.

Jadi manusia pertama yang berjenis wanita itu hamil atas kuasa Alloh (tanpa suami) lalu melahirkan seorang anak laki-laki yakni sebagai manusia kedua. Yang kemudian anak laki-laki tersebut setelah dewasa menjadi suami dari manusia pertama.
Perhatikan kalimat ," wakholaqo minha zaujaha "
Dalam ayat itu ada kata , " MINHA " artinya dari orang yang satu berjenis wanita. Seandainya manusia pertama itu laki-laki maka kalimatnya ialah " MINHU" tetapi di ayat-ayat itu memakai kalimat," MINHA" yang berarti wanita.
Kemudian kalimat " ZAUJAHAA" artinya Suami nya (wanita).

Terlihat jelas bahwa manusia pertama adalah wanita kemudian manusia ke dua adalah berjenis laki-laki. Kalau seandainya manusia pertama itu laki-laki maka kalimat nya dalam Qur'an bukanlah " Wakholaqo Minhaa Zaujahaa" tetapi berbunyi ," Wakholaqo Minhu Zaujahu ". Sebab "HU" itu dhomir laki-laki dan "HAA" itu dhomirnya wanita.
Dan dalam AL-QUR'AN tetap memakai " MINHA ZAUJAHAA".
Setelah tercipta manusia pertama berjenis wanita kemudian melahirkan seorang manusia berjenis laki-laki dan manusia kedua ini menjadi suami manusia pertama kemudian berkembanglah dari dua manusia itu laki-laki dan wanita yang banyak.

II. Manusia keturunan Adam

Allah berfirman,
“Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat. Kemudian Kami jadikan dia air mani yang tersimpan dalam tempat yang kukuh sekali. Kemudian Kami jadikan ‘alaqoh’ kemudian ‘alaqoh’ Kamu jadikan gumpalan (janin) dan gumpalan itu Kami jadikan tulang belulang dan tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami kembangkan menjadi makhluk lain lagi dan Kami tidak melalaikan ciptaan Kami”
(QS Al Mukminun 12-14)

Perkataan Arab “Alaqah” mempunyai tiga arti. Arti pertama adalah “lintah”. Arti kedua adalah “barang yang mengambang” dan yang ketiga “segumpal darah”
Menurut penyelidikan Profesor Moore, ia adalah Profesor Emeritus dalam Anatomi dan Sell Biologi di Universitas Toronto Kanada, ahli ilmu biologi, ditemukan bahwa :
1. Lintah air tawar sama penampakannya dengan embrio dalam tingkat alaqah ini.
2. Arti kedua adalah “barang mengambang”, inilah yang dapat kita lihat ketika embrio selama fase alawah menempel pada uterus (rahim) ibu.
3. Arti ketiga adalah “gumpalan darah”, menurut penelitian Profesor tersebut, di dalam fase alawah ini terjadi proses internal pembentukan darah seperti dalam tabung tertutup. Darah terperangkap dalam tabung2 tertutup membentuk menjadi gumapalan-gumapalan darah.
Dan ketiga arti itu diwakili oleh satu kata saja yaitu “alaqoh” dan tiga makna itu bisa dipakai tanpa ada satupun arti “alaqoh” yang tertolak.

Allah berfirman :
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya rohKu; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".(QS As Shaad : 72).

Allah juga berfirman :
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(QS As Sajdah :9).
Demikian saya kutip secara lengkap artikel "Mengenal Awal Kejadian Manusia".

Catatan :
Ada perbedaan dalam menterjemahkan Kitab Al Qur'an Surat An Nisaa ayat 1, Al A'raf ayat 189, Al An'am ayat 98 dan Az Zumar ayat 6, antara penulis artikel diatas dengan terjemahan yang saya lihat dalam situs Al Islam http://quran.al-islam.com/.
Yang perlu saya tekankan dalam masalah ini adalah perbedaan faham adalah hal yang wajar. Bagaimana sikap kita ? Bagaimana sikap dan pandangan kita terhadap perbedaan faham di kalangan ummat Islam. Perpecahan ukhuwah Islamiah bukan karena adanya perbedaan pendapat atau faham di kalangan ummat Islam, akan tetapi karena hawa nafsu menunggangi perbedaan fahamnya. Sehingga timbul perbuatan mencaci-maki, cela-mencela, fitnah-memfitnah dan malahan ada yang sampai kafir-mengkafirkan sesama muslim yang akhirnya ummat Islam menjadi lemah dan hilang kekuatannya.

"KHÃTAMAN NABIYYîN" MENURUT ULAMA DAN PARA WALI ALLAH


Teks Ayat "Khātam An-Nabiyyīn"

Mengenai kesempurnaan Syari'at Islam, derajat dan kedudukan Rasulullah SAW. Allah Ta'ala telah menegaskan:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan Khātam An-Nabiyyīn (Nabi yang paling sempurna) , dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu".[1]

Asbābun Nuzūl (Latar Belakang Historis) Ayat "Khātam An-Nabiyyīn"

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah SAW. kawin dengan Zainab, banyak orang ribut memperbincangkannya:"Muhammad kawin dengan bekas istri anaknya". Maka turunlah ayat ini (Q.S. 33 al-Ahzāb:40) yang menegaskan bahwa Zaid itu bukan putra Rasulullah. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari 'Aisyah.[2]

Selain dari itu, di Makkah pada waktu semua putra Rasulullah SAW. wafat di waktu masih kanan-kanak, musuh beliau mengejek beliau seorang abtar (yang tidak punya anak laki-laki sebagai generasi penerus) dan tidak mempunyai ahli waris lelaki untuk menggantikan beliau, oleh karena itu menurut orang-orang kafir Quraiys cepat atau lambat Jemaat (Umat Islam) yang beliau SAW. pimpin akan segera berakhir. Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah al-Kautsar, bahwa yang abtar itu bukan Rasulullah SAW. melainkan musuh-musuh beliau.[3] Sesudah al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di masa permulaan bahwa Yang Mulia Rasulullah SAW. akan dianugerahi anak-anak lelaki yang akan hidup hingga dewasa. Ayat 40 Surah al-Ahzab di atas menghilangkan kesalahfapaham itu juga disamping mengemukakan maqam tertinggi kenabian SAW., larangan mengubah nasab seseorang dengan mengubah nama bapak asli anak angkat dengan bapak angkatnya, pewarisan anak angkat dan kebolehan menikahi janda anak angkat.

Makna "Khātam An-Nabiyyīn" Menurut Ulama Salafush-shalih dan Para Wali Allah

1. Imam al-Rabbanī al-Quthb Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani rh. (898 – 983 H.), beliau seorang ulama dan sekaligus Wali Allah Ta'ala yang mendalami fan-fan dari ilmu Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Tashawwuf, bahasa/sastera Arab, Akhlaq, Kedokteran dan Kimia. Nasab beliau berasal dari keluarga 'Alawiyyah Hasyimiyyah, salah seorang kakek beliau adalah Muhammad bin al-Hanafiyyah bin Ali bin Abi Thalib ra. Menurut Barckelmann, seorang orientalis menyebutkan bahwa kitab-kitab karangan Sya'rani ra. mencapai 60 karya tulis yang masih terawat dan diterbitkan oleh penerbit Darul Ilmi Internasional.[4]

Imam al-Rabbani asy-Sya'rani rh. menjelaskan tentang makna Khātam An-Nabiyyiin sebagai berikut:

"Allah telah menyelesaikan segala syari'at dengan syari'at Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada lagi seorang Rasul yang membawa syari'at baru sesudah beliau dan tidak pula seorang Nabi pun yang mendapat syari'at baru untuk mengikutinya sendiri, karena manusia perlu mengikuti syari'at Muhammad SAW. sampai hari Qiamat".[5]

2. Syaikh Abdul Karim ibn Ibrahim al-Jili rh (767 - 811 H), beliau adalah seorang sufi terkenal dari Baghdad, beliau lahir di al-Jili, sebuah negeri di kawasan Baghdad dan meninggal dunia di tempat yang sama. Al-Jili rh. adalah murid dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rh, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah dan murid Syaikh Syarafuddin Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti rh, seorang tokoh tasawuf terkenal di negeri Zabit Yaman. Dalam dunia tulis menulis al-Jili termasuk seorang sufi yang cukup kreatif, karangannya tentang tasawuf tidak kurang dari 20 buah, yang paling terkenal diantaranya: al-Insān al-Kāmil fī Ma'rifati al- al-Awāil wa al-Awākhir dan al-Kahf wa al-Raqīm.

Syaikh Abdul Karim ibn Ibrahim al-Jili rh. menjelaskan tentang makna Khātam An-Nabiyyiin sebagai berikut:

"Maka terputuslah hukum kenabian tasyri'[pembawa syari'at/hukum baru] setelah beliau, oleh karena itu pula beliau sebagai khātaman nabiyīn, karena beliau telah datang dengan membawa kesempurnaan yang tidak pernah dibawakan oleh seorang rasul manapun."[6]

Sebelum itu Syaikh al-Jili menerangkan tentang ayat "Al-Yauma akmaltu lakum dīnakum..." beliau menyatakan:

"Rasulullah SAW. telah menjadikan agama yang beliau bawa menjadi termasyhur dengan segala kesempurnaanya. Allah Ta'ala berfirman: " ...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku..."[7]. Ayat ini belum pernah diturunkan Allah Ta'ala kepada nabi selain Nabi Muhammad SAW, dan seandainya ayat ini diturunkan kepada salah seorang nabi sebelum beliau tentu dia akan menjadi khātaman nabiyīn, akan tetapi hal itu tidak sah kecuali kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena ayat ini telah diturunkan kepada beliau maka jadilah beliau sebagai khātaman nabiyīn (nabi yang paling sempurna)."[8]

3. Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rh (560 – 638). Beliau seorang wali agung, seorang sufi dan filosof Andalusia (Spanyol). Syaikhul Akbar berhasil menulis 289 buku atau risalah, semua tulisannya berbicara dalam bidang tasawuf. Karya tulisnya yang paling termasyhur adalah kitab al-futūhāt al-Makkiyyah, yang sekarang dicetak dalam empat jilid, merupakan sebuah ensiklopedia besar tentang tasawuf. Salah satu nasihat beliau begini: "Apabila anda membaca al-Qur'an, jadikanlah diri anda berada dalam al-Qur'an, dan bersungguh-sungguhlah dalam mengamalkan isinya, sebagaimana anda bersungguh-sungguh membacanya..."[9].

Syaikh al-Akbar Ibnu Arabi menjelaskan tentang makna Khātam An-Nabiyyiin sebagai berikut:

"Sebagian dari yang diturunkan dalam kenabian itu ialah syari'at baru, maka dengan syari'at Nabi Muhammad SAW. itu Allah telah menghabiskan turunnya syari'at baru, oleh karena itulah Nabi kita menjadi Khātamun-Nabiyyīn".[10]

Ayat "Khātaman Nabiyyīn" Adalah ayat 'Am (bersifat umum) Yang Memerlukan Takhsis (Pengkhususan)

Seandainya ayat khātam an-Nabiyyīn harus dipahami dengan pengertian bahwa Yang Mulia Rasulullah SAW. adalah penghabisan atau penutup para nabi maka ayat ini mau tidak mau harus ditakhsis dengan ayat yang lain agar tidak menimbulkan seolah-olah ada pertentangan dengan ayat-ayat yang lain, seperti ayat 3 Surah al-Jumu'ah yang menerangkan tentang kedatangan "Nabi Muhammad" kedua kali[11], ayat 9 Surah Ash-Shaff[12] yang menerangkan tentang kemenangan Islam II ketika turunnya "Isa Ibnu Maryam" dan juga dengan hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh 35 orang shahabat ra. tentang datangnya seorang nabi yang secara isti'arah disebut Isa Ibnu Maryam pada akhir zaman.

Semua ulama sepakat mentakhsis lafal yang umum, karena pada dasarnya semua ayat-ayat al-Qur'an mengandung kebolehan mentakhsiskannya karena ada kaidah yang menyatakan bahwa: "Sesungguhnya pengkhususan lafal-lafal 'am itu diperbolehkan"[13] Pentakhsisan dimaksud mencakup pentakhsisan ayat al-Qur'an dengan ayat al-Qur'an ataupun pentakhsisan ayat al-Qur'an dengan Hadits.

Sebagian ulama merumuskan bahwa hanya 5 ayat yang tidak memerlukan pengkhususan, yaitu:

a. Masalah kesempurnaan dan keagungan Allah SWT., seperti Q.S. al-Baqarah:282.

b. Keharaman menikahi ibu, baik itu karena nasab, karena persusuan, seperti dalam Q.S. an-Nisa:22.

c. Setiap individu pasti mengalami kematian Q.S. Ali Imran:185.

d. Allah selalu menanggung rezeki makhluk hidup Q.S. Hud:6.

e. Allah SWT. yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi Q.S. al-Baqarah:284.

Kelima macam ayat itu tidak perlu dikhususkan karena konteksnya sudah jelas dan tidak mungkin mengalami perubahan.[14]

Lebih dari itu kaidah yang lain menjelaskan bahwa dalil atau lafal yang bersifat 'am (umum) tidak boleh diamalkan sebelum ditakhsis:

"Pelaksanaan dalil 'am (yang bersifat umum) sebelum diteliti kengkhususannya maka tidak diperbolehkan"[15]

Dengan demikian jelaslah apa yang disampaikan oleh para ulama shalafussh-shalih dan aulia (para wali) di atas adanya pengkhususan nubuwwat tasyri' saja yang tertutup sedangkan nubuwat ghair tasyri' atau nubuwwat al-wilayah tidak tertutup. Demikian ini karena Allah dan Rasul-Nya telah berjanji akan datangnya Isa Ibnu Maryam (al-Mahdi al-Muntazhar)[16] di akhir zaman yang akan memenangkan Islam di akhir zaman ini dengan ajaran Islam yang Indah dan menawan.

Kalimat "Khātaman Nabiyyīn" Ditinjau dari segi Fiqh Lughah dan Mantiq

Berdasarkan pendekatan fiqh lughah (Filologi) dan mantiq kata Khātam yang secara lughat mempunyai makna musytarak diantaranya; cincin, cap, dan dan akhir jika di-idhafat-kan (disandarkan) kepada kata jama' misalnya Al-Nabiyyiin maka tidak ada arti lain selain arti afdhalu (yang paling mulia), yang paling bagus atau kata yang semakna dengan itu. Dengan demikian arti yang sangat tepat untuk kata Khātam An-Nabiyyīn adalah Nabi yang paling utama, paling sempurna atau paling baik di antara para Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT.

Menurut Fiqh Lughah dan Mantiq pengambilan kesimpulan seperti di atas disebut Istiqra'. Secara bahasa Istiqra' adalah istikhrāj al-'ām au al-kullī min al-khāsh au al-tafshīlī (mengambil kesimpulan umum atau menyeluruh dari dari bagian atau rincian)[17]. Yakni penarikan kesimpulan secara induktif, yang dimulai dengan percobaan-percobaan kecil untuk menemukan kesimpulan-kesimpulan kecil yang diharapkan, setelah bercobaan-percobaan berikutnya, akan bermuara kepada penemuan kesimpulan yang sifatnya umum (general). Besi, misalnya, melalui percobaan-percobaan memanaskannya, ternyata memuai. Percobaan dilakukan berulang ulang di berbagai tempat dan waktu. Hasilnya terbukti sama, yaitu memuai. Kesimpulan umum lantas ditarik bahwa besi, jika dipanaskan memui.[18] Demikian juga ternyata jika kata Khātam diidhafatkan kepada kata jama' taksir atau mudzakkar salim maka akan selalu mempunyai pengertian "paling" mulia dan sejenisnya.

Berikut adalah hasil penelitian secara istiqra'i mengenai kata Khātam yang disandarkan kepada kata jama', baik jama mudzakar salim maupun jama' taksir : Sayyyidina Ali dijuluki Khātamul Auliya [19] , Plato dijuluki Khātamul Hukama[20] , Syamsuddin dijuluki Khātamul Huffadz[21] ,Rasyid Ridha dijuluki Khātamul Mufassirin[22] , Abu Tammam dijuluki Khātam asy-Syu'ara[23] , Imam Jalaluddin As-Suyuti dijuluki Khātamul Muhaqqiqin[24], Muhammad Abduh dijuluki Khātamul Aimmah[25], Manusia disebut Khātamul Makhlūqāt Jasmānyian[26] , Syaikh Waliullah Dehlawi dijuluki Khātamul Muhadditsin[27] , dan Syaikhul Akbar Ibnu Arabi dijuluki Khātamul Auliya[28]

Walhasil, apabila kita memahami kata Khātam dengan pengertian terakhir atau penutup dalam konteks seperti ungkapan kalimat-kalimat di atas tidak dengan makna yang paling utama, paling mulia, terbaik, paling sempurna, ataupun yang sepadan dengan itu, maka akan ada konsekuensi logis bahwa setelah Rasulullah SAW tidak akan turun Isa Ibnu Maryam (Al-Masih Al-Mau'ud), padahal kedatangannya dijanjikan dan dinyatakan oleh Rasulullah SAW sendiri secara mutawatir. Demikian juga dengan Sayyyidina Ali dijuluki Khātamul auliya dengan otomatis akan menafikan adanya para wali setelah beliau, termasuk Dewan Wali Songo di Jawa. Demikian juga Rasyid Ridha yang dijuluki Khātamul Mufassirin, apakah mungkin bahwa Dr.Wahbah Al-Zuhaili, Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mushfafa Al-Maraghi, Hussain Thabathaba'i, Prof.Dr. Hamka, Prof Dr. Hasybi Ash-Shidiqi, Prof. Muhammad Yunus, A Hassan Persis, Dr. Quraisy Syihab dan lain-lain itu "bukan ahli tafsir" atau "ahli tafsir palsu"? Karena ahli tafsir sudah ditutup oleh Rasyid Ridha?

II. "LÃ NABIYYA BA'DÎ" MENURUT PENDAPAT ULAMA PARA WALI ALLAH

Teks (Matan) Hadits Lā Nabiyya Ba'dī

"Ketika peperangan Tabuk, Rasulullah saw. mengangkat Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya (di Madinah). Kemudian Sayyidina Ali berkata: 'Wahai Rasulullah, Tuan meninggalkan saya hanya untuk menjaga anak-anak dan wanita-wanita'?. Maka Nabi Muhammad saw. menjawab: "Tidakkah engkau suka kedudukanmu di sampingku seperti Harun di samping Musa? Hanya saja, tidak ada nabi sesudahku."[29]

Dalam Shahih Bukhari matan hadits di atas sedikit berbeda redaksi walaupun dalam topik yang sama yaitu Perang Tabuk, yakni pada kata khollafa=mengangkat sebagai penggantinya, dalam Shahih Muslim menjadi istakhlafa dalam Shahih Bukhari dalam arti yang sama, tukhollifunī=Tuan meninggalkan saya?, dalam Shahih Muslim dengan atukhollifunī dalam Shahih Bukhari dalam arti "apakah Tuan meninggalkan saya?", dan pada kata ghoiro annahu lā nabiyya ba'dī= Hanya saja, tidak ada nabi sesudahku, dalam Shahih Muslim dengan illā annahu laisa nabiyyun ba'dī dalam Shahih Bukhari dengan arti yang sama.[30]

Hadits di atas tergolong hadits mutawatir dimana telah diriwayatkan oleh 12 orang shahabat ra. seperti dari Sa'ad bin Abi Waqqas ra. oleh Imam Muslim, Nasa'i , Tirmidzi, Ahmad, dan ath-Thayalis. Dari Abu Hurairah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad. Dari Jabir bin Abdullah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad . Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Asma binti Umais yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Ummu Salamah ra. yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Thabrani dan Abu Ya'la. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Anas bin Malik ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Hakim. Dari Ummu Karz al-Ka'biyah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Majah, al-Humaid. Dari Ummul Muminin Aisyah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Abu Thufail ra. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Abdullah bin Abbas ra. yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i, ad-Darimi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.[31]

Asbābul Wurūd (Latar Belakang Historis) Hadits Lā Nabiyya Ba'dī

Hadits ini mengisahkan ketika Yang Mulia Nabi SAW. hendak pergi ke peperangan Tabuk pada tahun 9 H, ketika itu beliau meninggalkan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah sebagai pengganti beliau di Madinah untuk menjaga ahli famili Nabi SAW. Sebagai seorang sahabat dan pahlawan Islam yang bergelar asadullah (singa Allah), Sayyidina Ali merasa agak heran kenapa ia tidak diberangkatkan ke medan perang Tabuk seraya berkata: 'Wahai Rasulullah, Tuan meninggalkan saya hanya untuk menjaga anak-anak dan wanita-wanita'?. Maka Nabi Muhammad saw. menjawab: "Tidakkah engkau suka kedudukanmu di sampingku seperti Harun di samping Musa? Hanya saja, tidak ada nabi sesudahku." [32]

Kaidah Ushul Tentang Takhsis Hadits Lā Nabiyya Ba'dī.

Hadits "Lā Nabiyya Ba'dī" (Tidak ada nabi setelahku) atau "Laisa nabiyyun ba'dī" (Tidak ada lagi nabi setelahku) adalah dalil 'am (umum) yang menghendaki adanya takhshis (penghususan) sebagaimana kaidah ushul membolehkan adanya takhsis as-Sunnah dengan as-Sunnah (takhshīs as-Sunnah bi as-Sunnah)[33].

Ternyata hadits mutawatir tentang tidak ada nabi setelah Rasulullah SAW. telah ditakhsis oleh hadits mutawatir juga, yakni hadits-hadits tentang akan datangnya lagi nabi setelah Rasulullah SAW. dengan bergelar Isa Ibnu Maryam atau al-Masih al-Mau'ud (al-Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah SAW.). Hal ini telah dipahami oleh Para Shahabat Nabi SAW. Imam Jalaluddin as-Suyuthi meriwayatkan dalam Tafsir Ad-Durul-Mantsur, Juz V, hal. 204 bahwa pada satu hari seorang telah berkata di hadapan Mughirah bin Syu'bah ra, orang itu berkata: "Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Muhammad Khataman-Nabiyyin yang tidak ada Nabi lagi sesudahnya." Mendengar perkataan orang itu Hadhrat Mughirah bin Syu'bah berkata kepadanya: "Cukuplah engkau berkata bahwa Nabi Muhammad itu Khatamun-Nabiyyin, karena kami sedang menerangkan Hadis Nabi SAW. bahwa Isa akan keluar. Jadi, jika dia (Isa Ibnu Maryam) keluar maka sudah tentu ada lagi nabi sebelum dan sesudahnya Nabi SAW."

Adapun hadits mutawatir tentang datangnya nabi yang bergelar Isa Ibnu Maryam tersebut telah diriwayatkan oleh tidak kurang dari 35 shahabat ra. seperti dari Sa'id bin al-Musayyab ra. oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka. Dari Abu Hurairah ra. oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, al-Haitsami, Ibnu Majah, al-Bazzar, dan Ibnu Asakir. Dari Nawas bin Sam'an ra. diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Hakim. Dari Abdullah bin Amr ra. diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad dan Hakim. Dari Tsaubah ra. diriwayatkan oleh Nasa'i dan Ahmad. Dari Mujammi' bin Jariyah al-Anshari ra. diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Imam Ahmad. Dari Abu Umamah al-Bahili ra. diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim. Dari Abdullah bin Mas'ud ra. diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Hakim. Dari Utsman bin Abu al-Ash ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hakim dan Haitsami. Dari Samurah bin Jundub ra. diriwayatkan oleh Abu Dawud, Imam Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Haitsami. Dari Hudzaifah bin Usaid ra. diriwayatkan oleh Hakim. Dari Abu Thufail al-laits ra. diriwayatkan oleh Hakim. Dari Anas ra. diriwayatkan oleh Hakim. Dari Watsilah bin al-Asqa ra. diriwayatkan oleh Haitsami. Dari Abdullah bin Salam ra. diriwayatkan oleh Tirmidzi. Dari Ibnu Abbas ra. diriwayatkan oleh Nasa'i dan Hakim. Dari Jabir bin Abdullah ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hakim dan Haitsami. Dari Aus bin Aus ats-tsaqafi ra. diriwayatkan oleh Tabrani dan Haitsami. Dari Imran bin Hushain ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Ummul Mu'min Aisyah ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Haitsami. Dari Abdullah bin Umar ra. diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad. Dari Sufainah ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hitsami. Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Jarir ath-Thabari. Dari Abdullah bin Mughaffal ra. diriwayatkan oleh Thabrani, Baihaqi dan Haitsami. Dari Abdurrahman bin Samurah ra. diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Hakim. Dari Abdullah bin Thariq ra. diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Asakir dan Haitsami. Dari Ibnu al-Asy'ats ash-Shan'ani ra. dimuat dalam Kanz Ummal (7/267). Dari Qatadah ra. dikelurkan oleh Imam Suyuthi dalam ad-Dururl Mantsur diriwayatkan oleh a. Dari Ibnu Zaib bin al-Muhajid ra. dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Tarikh al-Umam wa al-Muluk (6/14). Dari Abu Malik al-Ghifari ra. dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dari Mujahid bin Jubair al-Makkii ra. dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dari Abu Rafi' Naufai' bin rafi' ra. dikeluarkan oleh Imam Ahmad. Dari Ibnu Zaid ra. dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya dan Imam Suyuthi dalam ad-Durul-nya. Dari Ka'ab al-Akbar ra. diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.[34]

Para ulama Ahmadiyah memahami kata Lā pada kata Lā Nabiyya Ba'dī sebagai Lā li al-kamāl (Lā untuk menunjukkan kesempurnaan) seperti halnya dalam hadits: "lā hijrota ba'da fathi Makkata" (Tidak ada hijrah setelah penaklukkan Makkah yang menyamai kesempurnaan hijran nabi SAW. dan para shahabat beliau ra.)[35]. Fakta sejarah membuktikan bahwa setelah fath Makkah ummat Islam masih melakukan hijrah-hijrah lain, seperti yang dilakukan oleh Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, yang menjadi leluhur para wali yang tergabung dalam "Dewan Wali Songo" dan para Habib Indonesia.

Imam Ahmad bin Isa diberi laqab (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berangkat ke Hijaz dan menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka'bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu dibawa ke Hijr sehingga tempat batu itu menjadi kosong. Kemudian Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut.

Dengan demikian, pengertian Lā Nabiyya Ba'dī yang tepat dan sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Yang Mulia Rasulullah SAW. adalah: "Tidak ada lagi nabi yang akan datang setelahku yang sesempurnaku dan yang akan menghapuskan syari'atku".

Pemahaman Ulama Salafush-Shalih dan Para Wali Allah Tentang Hadits Lā Nabiyya Ba'dī

I. Imam Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin as-Suyuthi rh (849 – 911 H.), seorang ahli Tafsir, Hadits, bahasa Arab, Mujaddid abad 9 H. dan Wali Allah Ta'ala yang pengalaman spiritualnya telah memasuki dunia ghaibiyyah Ilahi. Kitab-kitab beliau banyak dijadikan bahan kajian dan rujukan di pesantren-pesantren tradisional dan perguruan tinggi di Indonesia, seperti Tafsir ad-Durul Mantsur fī tafsir al-Ma'tsūr, Tafsir al-Jalalain, al-Itqān fī 'ulūm al-Qur'an, al-Jāmi' al-Shāghir, Jam'ul Jawāmi fī al-'Arabiyyah dan lain-lain dengan jumlah karya tulis sebanyak 415 judul. [36]

Imam Jalaluddin as-Suyuthi memahami hadits Lā Nabiyya Ba'dī sebagai berikut:

Orang yang berprasangka itu berkata, "tapi dalilnya adalah, 'Tidak ada wahyu setelahku'". Kami berkata, "Hadits ini dengan lafazh seperti ini adalah tidak benar". Orang yang berprasangka itu berkata, "Dalilnya adalah hadits, Tidak ada nabi setelahku". Kami mengatakan: Kasihan sekali engkau, tidak ada dalil pada hadits ini dari sisi mana pun, karena yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah: tidak muncul setelahku seorang nabi dengan syariat yang menghapus syari'atku, sebagaimana yang ditafsirkan oleh para ulama.[37]

II. Imam al-Rabbanī al-Quthb Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani rh (898 – 983 H.).

Imam Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani rh. memahami hadits Lā Nabiyya Ba'dī sebagai berikut:

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "Lā Nabiyya Ba'dī Walā Rasūla" itu berarti:Tidak ada Nabi dan Rasul yang membawa syari'at baru sesudahku".[38]

III. Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rh (560 – 638)

Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi menjelaskan hadits Lā Nabiyya Ba'dī sebagai berikut:

"Maksud Hadis "Lā Nabiyya Ba'dī ialah tidak akan ada lagi Rasul dan Nabi yang mengikuti syari'at yang menyalahi syari'atku bahkan apabila ada Nabi nanti dia akan mengikuti hukum syari'atku"[39]

Pemahaman Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Tentang Kenabian Setelah Rasulullah SAW.

Dalam tahun 1889 beliau meletakkan dasar-dasar dari Jemaat Ahmadiyah dan mengeluarkan seruan kepada orang-orang yang bertakwa untuk mengikuti perjanjian (bai'at) dan persekutuan keruhanian dengan beliau sebagai Mujadid di dalam Islam dan ummatnya. Seruan beliau disambut oleh beberapa orang yang berbai'at (berjanji setia) akan membantu beliau dan akan taat kepada beliau dalam segala hal yang bersifat keruhanian, akhlak, dan kemanusiaan. Seruan beliau juga menimbulkan penentangan dari antara umat Muslim yang kemudian dengan berjalannya waktu menjadi permusuhan yang getir dimana beberapa kelompok non-Muslim bergabung dengan mereka.

Sesuai petunjuk dan pengangkatan Tuhan, Mirza Ghulam Ahmad as. menyatakan diri sebagai Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Maud) dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh Rasulullah SAW. Inti serangan terhadap beliau oleh para ulama Muslim adalah karena beliau mengaku sebagai nabi yang dianggap bertentangan dengan petunjuk Al-Quran yang menyatakan: Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari antara kaum laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabi yang paling sempurna (Khātam An-Nabiyyīn) dan Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu.[40]

Menjawab serangan itu, Mirza Ghulam Ahmad as. menjelaskan bahwa beliau sejujurnya dan sepenuh hati meyakini bahwa Rasulullah SAW. adalah Khātam An-Nabiyyīn dalam konotasinya yang paling agung. Beliau meyakini bahwa Rasulullah SAW. dikaruniai Allah s.w.t. dengan segala keluhuran kenabian pada tingkat yang paling utama. Beliau meyakini bahwa dengan kedatangan Rasulullah SAW. maka semua kenabian dari nabi-nabi sebelumnya yang ajarannya saat itu masih berlaku dan mengikat bagi umat mereka telah berakhir dan setelah kedatangan itu yang berlaku hanyalah kenabian Rasulullah SAW. saja.

Status keruhanian dari nabi ummati [41] atau zhillī [42] yang datang setelah Rasulullah SAW. hanya bisa diberikan kepada seorang pengikut beliau yang paling saleh dan takwa serta merupakan cermin yang merefleksikan dan mengambil sinarnya dari nur cahaya Muhammad SAW. Sosok demikian secara keruhanian menjadi satu dengan Rasulullah SAW. dan tidak mempunyai identitas terpisah miliknya sendiri. Mirza Ghulam Ahmad menyatakan dirinya sebagai nabi dalam pengertian demikian itu dan beliau mendakwakan bahwa dengan kedatangannya itu telah terpenuhi nubuatan tentang kedatangan Masih Mau'ud dan Imam Mahdi. Beliau menyangkal dan menganggap­nya sebagai hinaan terhadap kewibawaan Rasulullah SAW. sebagai Khātam An-Nabiyyīn adanya kepercayaan yang mengatakan bahwa Nabi Isa (Yesus), Nabi yang oleh Al-Qur'an telah dikhusukan buat Bani Israil akan datang secara haqiqi kembali dari langit untuk menghidupkan kembali Islam.

Mirza Ghulam Ahmad menegaskan bahwa menurut Al-Quran[43], Hadits, fakta sejarah, dan khabar ghaib dari 'Alimul Ghaib bahwa Nabi Isa as. telah wafat secara biasa sebagaimana para nabi yang lain pada umur 120 tahun dan dimakamkan di Rauzabal (kuburan nabi) Srinagar Kasymir. Adapun nubuwwatan (khabar ghaib) Yang Mulia Rasulullah SAW. tentang kedatangan Isa ibnu Maryam di akhir zaman beliau pahami secara isti'arah (majazi), sebagaimana kelaziman-kelaziman yang sering dikemukakan Allah Ta'ala.

Sehubungan dengan Keutamaan Rasulullah SAW. dan syari'at Islam, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. bersabda:

"Sebagaimana Tuhan kami benar-benar Esa, Dialah satu-satunya Tuhan yang berkah disembah, demikian juga Rasul kami (Muhammad SAW.) adalah satu, yang tidak ada nabi (pembawa syari'at) setelahnya dan tidak pula ada bandingannya karena sungguh beliau adalah Khātaman Nabiyyīn".[44]

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. bersabda tentang hadits Yang Mulia Rasulullah SAW. yang menyatakan: Lam yabqa minannubuwwati illā al-mubasysyirāt :"Hadis itu menunjukkan bahwa kenabian yang sempurna yang mengandung wahyu syari'at baru itu memang sudah terputus, akan tetapi Kenabian yang tidak mengandung syari'at, melainkan al-mubasy-syirā saja itu tetap ada sampai hari Qiamat, tidak akan putus selama-lamanya".[45]

Dalam masalah ini juga, beliau telah menjelaskan apakah yang dimaksud dengan al-mubasysyirāt itu, sabda beliau: "Mubasysyirat adalah mimpi-mimpi, kasyaf-kasyaf, wahyu yang turun kepada para wali dan nur yang nyata bagi hati orang-orang (para wali) yang disakiti manusia.".

Natijah wa at-Taushiah

Kalau saja kita mau jujur, kita akan dapat melihat bahwa Ahmadiyah dan pendirinya berada di atas jalan kebenaran (al-haqq) dan cahaya (ilmu pengetahuan/makrifat). Tuhan, fenomena alam, fakta-fakta sejarah dan paradaban menjadi saksi akan kebenarannya sehingga lepas tiga abad setelah jemaat ini (Ahmadiyah) didirikan manusia akan mengenal bahwa Islam tidak lain adalah Ahmadiyah dan Ahmadiyah tidak lain adalah Islam.

Oleh karena itu, kepada segenap orang yang senantiasa memusuhi Ahmadiyah maupun pendirinya penulis ingatkan agar segera bertobat, jika tidak penulis khawatir azab Tuhan akan terus datang silih berganti sedangkan do'a-do'a untuk menolak azab itu tidak lagi akan dikabulkan Tuhan. Bukankah Yang Mulia Nabi SAW. telah bersabda :"Barangsiapa memusuhi wali Allah, maka sama halnya dengan menyatakan perang terhadap Allah". Atau bukankah Tuhan telah berfirman: "Allah telah menetapkan bahwa Aku (Allah) dan Rasul-rasul-Ku pasti menang"?

Alhamdulillahi rabbil 'alamīn

[1] Q.S. Al-Ahzab:40.

[2] K.H.Q. Shaleh dan H.A.A. Dahlan, Asbābun Nuzūl, CV Penerbit Diponegoro, Bandung, 2000, halaman 433.

[3] Adalah suatu fakta bahwa para wali yang tergabung dalam "Dewan Wali Songo" dan para habib yang menyebarkan Islam di Indonesia adalah keturunan Yang Mulia Rasulullah SAW. Mereka pada umumnya adalah para wali yang berasal dari keturunan Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau diberi laqab (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berangkat ke Hijaz dan menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka'bah tanpa ada Hajar Aswad, karena ketika itu Hajar Aswad dilarikan ke pangkalan kaum Qaramithah di sebelah timur semenanjung Arabi hingga ke Kufah selama periode 317-339. Kemudian Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut. Disana ia menghadapi orang-orang Khawarij, sehingga ia dan anak cucunya dapat menghapus mazhab Ibadhiy dan menyebarkan mazhab Syafi'i. Setelah itu salah satu cucunya Muhammad Shohib Marbath menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi'i di daerah Zhufar. Para syarif hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India, dan Asia Tenggara untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dan mengajarkan para penduduknya pokok-pokok ajrab agama yang hanif (lurus) ini. Peristiwa hijrahnya Imam Ahmad bin Isa yang diberi gelar al-Muhajir, ini sekaligus menjadi bukti bahwa setelah Fath Makkah masih ada hijrah. Dengan demikian arti lā hijrota ba'da fathi (Tidak ada hijrah setelah penaklukan Makkah) tidak berarti secara mutlak tidak ada hijrah lagi, akan tetapi bermakna "Tidak ada lagi hijrah yang secara histori dan derajat menyamai Hijrahnya Nabi SAW. dan para shahabt ra." Demikian juga makna "Lā Nabiyya Ba'dī" di antaranya akan mempunyai makna semacam itu.

[4] Lihat, Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani, Tanbihul Mughtarīn, Darul Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, 2003, halaman 3 – 9.

[5] Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani, Al-Yawāqit wa al-Jawahir, al-Haramain, Singapura, t.t. Juz II, hal. 37, bahasan ke-35.

[6] Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili, al-Insān al-Kāmil fī Ma'rifati al- al-Awāil wa al-Awākhir, al-Maktabah al-Taufiqiyyah, 132 – 133.

[7] Al-Maidah [05]:3

[8] al-Insān al-Kāmil fī Ma'rifati al- al-Awāil wa al-Awākhir, 132.

[9] Lihat, Ensiklopedi Islam Indonesia, Djambatan, Jakarta 1992, halaman 347 – 348.

[10] Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu Arabi rh., al-futūhāt al-Makkiyyah , Juz II, hal. 56.

[11] Allah berfirman: "Dan (juga Rasulullah SAW.) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.". Imam Bukhari meriwayatkan, dari Abi Hurairah ra. beliau berkata: "Kami sedang duduk bersama Nabi SAW. ketika itu Surah al-Jumu'ah diturunkan atasnya; wa ākharīna minhum lammā yalhaqū bihim, beliau bertanya, aku bertanya: "Siapakah mereka itu Wahai Rasulullah!" Rasul tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, bersama kami ketika itu ada Salman al-Farsi. Kemudian Rasulullah SAW. meletakkan tangannya di atas tubuh Salman seraya berkata: "Seandainya iman sudah terbang ke bintang Tsurayya, iman itu akan diambilnya kembali oleh beberapa laki-laki atau seorang laki-laki dari mereka (keturunan Farsi)" Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Darul Fikr, 2005, jilid 3, halaman 63, bab Tafsir Sūratil Jumu'ah.

[12] Allah berfirman: "Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci." Ibnu Jarir menyebutkan bahwa (kemenangan Islam II itu) akan terjadi 'inda nuzūli 'Isa Ibni Maryām (Ketika turun Isa Ibnu Maryam). Abu Hurairah ra. berkata: Khurūju 'Isa Ibnu Maryām (Ketika keluarnya Isa Ibnu Maryam). Tafsir Jāmi'ul Bayān, Darul Fikr, Beirut, 1995, jilid 14, halaman 112.

[13] Abdul Hakim Hakim, Al-Bayan, al-Maktabah as-Sa'diyyah Putera, Jakarta, t.t., hal. 53

[14] Mushlih Usman, Drs, MA, Kaidah-Kaidah Ushuliyah Dan Fiqhiyah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, halaman 44.

[15] Abdul Hakim Hakim, Al-Bayan, al-Maktabah as-Sa'diyyah Putera, Jakarta, t.t., hal. 51

[16] Rasulullah SAW. bersabda dalam hadits Ibnu Majah: " lā mahdiyya illā 'Isa ibna Maryām" (Tidak ada Mahdi melainkan Isa ibnu Maryam)

[17] Atabik Ali dan A.Zuhdi Mudhlor, Qāmus Karabyāk al-'Ashrī, Pondok Krapyak, Yogyakarta, cetakan kedelapan, halaman 108.

[18] H. Baihaqi A.K., Prof.Dr, Ilmu Mantik, Darul Ulum Press, 2002, hal 113. Lihat: Muhammad Al-Mubarak, Fiqhu Al-Lughah wa Khashāisul 'Arabiyyah, Darul Fikr, tt, hal 30.

[19] Dalam Tafsir Ash-Shāfi

[20] Dalam kitab Mir'atu al-suruh

[21] Dalam kitab Al-Tajridu al-Shariih

[22] Dalam kitab Al-Jami' Al-Islam

[23] Dalam kitab Wafiatul 'Ayan

[24] Dalam kitab Al-Itqan fii 'ulūm Al-Qur'an

[25] Dalam Tafsir Sūrat Al-Fātihah

[26] Dalam Al-Tafsir Al-Kabir

[27] Dalam kata Ujala Nafi

[28] Dalam Al-Futuh Al-Makiyyah

[29] Muslim bin Hajaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Darul Fikr, 1993, jilid II, hal. 448, bah Min Fadhāili 'Alliyibni Abi Thālib.

[30] Lihat, Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Darul Fikr, 2005, jilid 3, halaman 129, bab Ghazwati Tabūka.

[31] Lihat, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al-Masaa-il, Darus Sunnah, Jakarta, 2007, jilid 2, halaman 110-111.

[32] Lihat, Dede A. Nasruddin, Ahli Sunnah Menjawab Ahmadiyah, LPPI, Jakarta, 2002, halaman 13.

[33] Abdul Hakim Hakim, Al-Bayan, al-Maktabah as-Sa'diyyah Putera, Jakarta, t.t., hal. 64

[34] Lihat, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Di Akhir Zaman, terjemahan Abdurrahim Ahmad,Najla Press, Jakarta, 2008, hal. 103-151.

[35] H.R. Bukhari. Jalaluddin as-Suyuthi, al-Jāmi' al-Shāghir, Syirkah al-Ma'arif, Bandung, t.t., juz II, hal. 204. Alauddin al-Hindi, Kanz al-Ummal, Muassaatur Risalah, Beirut, 1989, Jilid 16, hadits nomor 46251.

[36] Menurut Yorkleman sebanyak 415 karya tulis, sedangkan menurut Asy-Sya'rani karya Imam Jalaluddin mencapai 460.

[37] Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Di Akhir Zaman, terjemahan Abdurrahim Ahmad,Najla Press, Jakarta, 2008, hal 90-91.

[38] Abdul Wahhab asy-Syafi'i asy-Sya'rani, Al-Yawāqit wa al-Jawahir, al-Haramain, Singapura, t.t, Juz II, hal. 22.

[39] Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu Arabi rh., Al-Futuhat al-Makkiyah, Juz II, hal. 73.

[40] QS. al-Ahzab [33]: 40

[41] Orang yang dikaruniai derajat kenabian pada umat Muhammad SAW. dan dalam lingkup syari'at Islam (nabi ghair mustaqil).

[42] Orang yang memperoleh kemulian (keluhuran) kenabian dengan sebab mengikui Nabi Muhammad SAW.secara sempurna.

[43] Prof.DR. Hamka (mantan ketua MUI), Prof.DR. Ahmad Syalaby, Syaikh Mahmud Saltut, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lain meyakini bahwa menurut Al-Qur'an, Nabi Isa telah wafat seperti biasa. DR. Hamka menulis: "Tidak ada dalam al-Qur'an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa a.s. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya. Adapun sabda Tuhan mengatakan: "Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada oarng-orang kafir itu!". Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirnya (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris a.s. dikatakan Tuhan: "dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi". Dan inipun jelas pula yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-nabi yang lain juga". (Tafsir Al Azhar, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 2006, juz III, halaman 256.) DR. Ahmad Syalaby menulis: "Mahaguru Al-Azhar itu menambahkan keterangannya sebagai berikut. Bahwasanya Isa-Al-Masih itu meninggal dunia secara wajar seperti manusia biasa meninggal. Bahwa yang diangkat naik ke langit itu ialah rohnya, dinaikkan bersama-sama roh para nabi, siddikin, dan syuhada". (Perbandingan Agama Agama Kristen, alih bahasa DR.JS.Badudu, PT. Al-Ma'arif, Bandung, cetakan ke-10, hal. 25)

[44] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Minanur Rahmān, Ruhani Khazain Vol 9, Additional Nazir Isya'at, London, halaman 49.

[45] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, at-Tabligh, Additional Nazir Isya'at, London, halaman 14.

Senin, 03 Mei 2010

RENUNGAN QALBU

Acuan dalam pengamalan tarekat bertumpu kepada tradisi dan akhlak nubuwah (kenabian), dan mencakup secara esensial tentang jalan sufi dalam melewati maqomat dan ahwal tertentu. Setelah ia tersucikan jasmaniahnya, kemudian melangkah kepada aktivitas aktivitas, yang meliputi:

Pertama, tazkiyah an nafs atau pensucian jiwa, artinya mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat sifat terpuji dan malakuti.

Kedua, tashfiyah al qalb, pensucian kalbu. Ini berarti menghapus dari hati kecintaan akan kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara dan kekhawatirannya atas kesedihan, serta memantapkan dalam tempatnya kecintaan kepada Allah semata.

Ketiga, takhalliyah as Sirr atau pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang bakal mengalihkan perhatian dari dzikir atau ingat kepada Allah.

Keempat, tajalliyah ar Ruh atau pencerahan ruh, berarti mengisi ruh dengan cahaya Allah dan gelora cintanya.

Qasrun = Merupakan unsur jasmaniah, berarti istana yang menunjukan betapa keunikan struktur tubuh manusia.
Sadrun = (Latifah al-nafs) sebagai unsur jiwa
Qalbun = (Latifah al-qalb) sebagai unsur rohaniah
Fuadun = (Latifah al-ruh) Unsur rohaniah
Syagafun = (Latifah al-sirr) unsur rohaniah
Lubbun = (Latifah al-khafi) unsur rohaniah
Sirrun = (Latifah al-akhfa) unsur rohaniah

Hal ini relevan dengan firman Allah SWT dalam hadist qudsi:

"Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu qasrun (istana), di situ ada sadrun (dada), di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalamnya ada lagi fu'ad (jujur ingatannya), di dalamnya pula ada syagaf (kerinduan), di dalamnya lagi ada lubbun (merasa terialu rindu), dan di dalam lubbun ada sirrun (mesra), sedangkan di dalam sirrun ada "Aku".

Ahmad al-Shirhindi dalam Kharisudin memaknai hadist qudsi di atas melalui sistem interiorisasi dalam diri manusia yang strukturnya yang dapat diperhatikan dalam gambaran di atas.

Pada dasarnya lathifah-lathifah tersebut berasal dari alam amri (perintah) Allah : "Kun fayakun", yang artinya, "jadi maka jadilah" (QS : 36: 82) merupakan al-ruh yang bersifat immaterial. Semua yang berasal dari alam al-khalqi (alam ciptaan) bersifat material. Karena qudrat dan iradat Allah ketika Allah telah menjadikan badan jasmaniah manusia, selanjutnya Allah menitipkan kelima lathifah tersebut ke
dalam badan jasmani manusia dengan keterikatan yang sangat kuat.

Lathifah-lathifah itulah yang mengendalikan kehidupan batiniah seseorang, maka tempatnya ada di dalam badan manusia. Lathifah ini pada tahapan selanjutnya merupakan istilah praktis yang berkonotasi tempat.

Umpamanya :

Lathifah al-nafsi sebagai tempatnya al-nafsu al-amarah.
Lathifah al-qalbi sebagai tempatnya nafsu al-lawamah.
Lathifah al-Ruhi sebagai tempatnya al-nafsu al-mulhimmah, dan seterusnya.

Dengan kata lain bertempatnya lathifah yang bersifat immaterial ke dalam badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena kuasa Allah.

Lathifah sebagai kendaraan media bagi ruh bereksistensi dalam diri manusia yang bersifat barzakhiyah (keadaan antara kehidupan jasmaniah dan rohaniah).

Pada hakekatnya penciptaan ruh manusia (lima lathifah), tidak melalui sistem evolusi. Ruh ditiupkan oleh Allah ke dalam jasad manusia melalui proses. Ketika jasad Nabi Adam a.s telah tercipta dengan sempurna, maka Allah memerintahkan ruh Nya untuk memasuki jasad Nabi Adam a.s.

Maka dengan enggan ia menerima perintah tersebut. Ruh memasuki jasad dengan berat hati karena harus masuk ke tempat yang gelap. Akhirnya ruh mendapat sabda Allah:

"Jika seandainya kamu mau masuk dengan senang, maka kamu nanti juga akan keluar dengan mudah dan senang, tetapi bila kamu masuk dengan paksa, maka kamupun akan keluar dengan terpaksa".

Ruh memasuki melalui ubun-ubun, kemudian turun sampai ke batas mata, selanjutnya sampai ke hidung, mulut, dan seterusnya sampai ke ujung jari kaki. Setiap anggota tubuh Adam yang dilalui ruh menjadi hidup, bergerak, berucap, bersin dan memuji Allah. Dari proses inilah muncul
sejarah mistis tentang karakter manusia, sejarah salat (takbir, ruku dan sujud), dan tentang struktur ruhaniah manusia (ruh, jiwa dan raga).

Bahkan dalam al Qur'an tergambarkan ketika ruh sampai ke lutut, maka Adam sudah tergesa gesa ingin berdiri. Sebagaimana firman Allah : "Manusia tercipta dalam ketergesa-gesaan" (Q.S.21:37).

Pada proses penciptaan anak Adam pun juga demikian, proses bersatunya ruh ke dalam badan melalui tahapan. Ketika sperma berhasil bersatu dengan ovum dalam rahim seorang ibu, maka terjadilah zygot (sel calon janin yang diploid ). Ketika itulah Allah meniupkan sebagian ruhnya (QS : 23 : 9), yaitu ruh al-hayat. Pada tahapan selanjutnya Allah
menambahkan ruhnya, yaitu ruh al-hayawan, maka jadilah ia potensi untuk bergerak dan berkembang, serta tumbuh yang memang sudah ada bersama dengan masuknya ruh al-hayat.

Sedangkan tahapan selanjutnya adalah peniupan ruh yang terakhir, yaitu ketika proses penciptaan fisik manusia telah sempurna (bahkan mungkin setelah lahir). Allah meniupkan ruh al-insan (haqiqat Muhammadiyah).

Maka dengan ini, manusia dapat merasa dan berpikir. Sehingga layak menerima taklif syari' (kewajiban syari'at) dari Allah dan menjadi khalifah Nya.

Itulah tiga jenis ruh dan nafs yang ada dalam diri manusia, sebagai potensi yang menjadi sudut pandang dari fokus pembahasan lathifah (kesadaran).

Lima lathifah yang ada di dalam diri manusia itu adalah tingkatan kelembutan kesadaran manusia.

Sehingga yang dibahas bukan hakikatnya, karena hakikat adalah urusan Tuhan (QS : 17 : 85), tetapi aktivitas dan karakteristiknya.

Lathifah al-qalb, bukan qalb (jantung) jasmaniah itu sendiri, tetapi suatu lathifah (kelembutan), atau kesadaran yang bersifat rubbaniyah (ketuhanan) dan ruhaniah.

Walaupun demikian, ia berada dalam qalb (jantung) manusia sebagai media bereksistensi. Menurut Al Ghazall, di dalam jantung itulah memancarnya ruh manusia itu. Lathifah inilah hakikatnya manusia. Ialah yang mengetahui, dia yang bertanggung jawab, dia yang akan disiksa dan diberi pahala. Lathifah ini pula yang dimaksudkan sabda Nabi "Sesungguhnya Allah tidak akan memandang rupa dan hartamu, tetapi ia memandang hatimu".

Lathifah al-qalb bereksistensi di dalam jantung jasmani manusia, maka jantung fisik manusia ibaratnya sebagai pusat gelombang, sedangkan letak di bawah susu kiri jarak dua jari (yang dinyatakan sebagai letaknya lathifah al-qalb) adalah ibarat "channelnya". Jika seseorang ingin berhubungan dengan lathifah ini, maka ia harus berkonsentrasi pada tempat ini. Lathifah ini memiliki nur berwarna kuning yang tak terhinggakan (di luar kemampuan indera fisik).

Demikian juga dengan Lathifah al-ruh, dia bukan ruh atau hakikat ruh itu sendiri. Tetapi lathifah al-ruh adalah suatu identitas yang lebih dalam dari lathifah al-qalb. Dia tidak dapat diketahui hakikatnya, tetapi dapat dirasakan adanya, dan diketahui gejala dan karakteristiknya. Lathifah ini terletak di bawah susu kanan jarak dua jari dan condong ke arah kanan. Warna cahayanya merah yang tak terhinggakan. Selain tempatnya sifat-sifat yang baik, dalam lathifah
ini bersemayam sifat bahimiyah atau sifat binatang jinak. Dengan lathifah ini pula seorang salik akan merasakan fana al-sifat (hanya sifat Allah saja yang kekal), dan tampak pada pandangan batiniah.

Lathifah al-sirri merupakan lathifah yang paling dalam, terutama bagi para sufi besar terdahulu yang kebanyakan hanya menginformasikan tentang tiga lathifah manusia, yaitu qalb, ruh dan sirr. Sufi yang pertama kali mengungkap sistem interiorisasi lathifah manusia adalah Amir Ibn Usman Al Makki (w. 904 M), yang menurutnya manusia terdiri dari empat lapisan kesadaran, yaitu raga, qalbu, ruh dan sirr.

Dalam temuan Imam al Robbani al Mujaddid, lathifah ini belum merupakan latifiah yang terdalam. Ia masih berada di tengah tengah lathifah al ruhaniyat manusia. Tampaknya inilah sebabnya sehingga al Mujaddid dapat merasakan pengalaman spiritual yang lebih tinggi dari para sufi sebelumnya, seperti Abu Yazid al Bustami, al-Hallaj (309
H), dan Ibnu Arabi (637 H). Setelah ia mengalami "ittihad" dengan Tuhan, ia masih mengalami berbagai pengalaman ruhaniah, sehingga pada tataran tertinggi manusia ia merasakan sepenuhnya, bahwa abid dan ma'bud adalah berbeda, manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan.

Hal yang diketahui dari lathifah ini adalah, ia memiliki nur yang berwarna putih berkilauan. Terletak di atas susu kiri jarak sekitar dua jari, berhubungan dengan hati jasmaniah (hepar). Selain lathifah ini merupakan manifestasi sifat-sifat yang baik, ia juga merupakan
sarangnya sifat sabbu'iyyah atau sifat binatang buas. Dengan lathifah ini seseorang salik akan dapat merasakan fana' fi al-dzat, dzat Allah saja yang tampak dalam pandangan batinnya.

Lathifah al-khafi adalah lathifah al-robbaniah al-ruhaniah yang terletak lebih dalam dari lathifah al-sirri. Penggunaan istilah ini mengacu kepada hadis Nabi : "Sebaik-baik dzikir adalah khafi dan sebaik baik rizki adalah yang mencukupi". Hakikatnya merupakan rahasia Ilahiyah. Tetapi bagi para sufi, keberadaanya merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Cahayanya berwarna hitam, letaknya berada di atas susu sebelah kanan jarak dua jari condong ke
kanan, berhubungan dengan limpa jasmani. Selain sebagai realitas dari nafsu yang baik, dalam lathifah ini bersemayam sifat syaithoniyyah seperti hasad, kibir (takabbur, sombong), khianat dan serakah.

Lathifah yang paling lembut dan paling dalam adalah Lathifah al-akhfa. Tempatnya berada di tengah-tengah dada dan berhubungan dengan empedu jasmaniah manusia. Lathifah ini memiliki nur cahaya berwarna hijau yang tak terhinggakan. Dalam lathifah ini seseorang salik akan dapat merasakan'isyq (kerinduan) yang mendalam kepada Nabi Muhammad s.a.w. sehingga sering sering ruhaniah Nabi datang mengunjungi.

Relevan dengan pendapat al-Qusyairi yang menegaskan tentang tiga alat dalam tubuh manusia dalam upaya kontemplasi, yaitu:

Pertama, qalb yang berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Allah.Kedua, ruh berfungsi untuk mencintai Allah, dan
Ketiga, sirr berfungsi untuk melihat Allah.

Dengan demikian proses ma'rifat kepada Allah menurut al Qusyairi dapat digambarkan sebagai berikut dibawah ini.

Aktivitas spiritual itu mengalir di dalam kerangka makna dan fungsi rahmatan lil 'alamin; Tradisi kenabian pada hakekatnya tidak lepas dari mission sacred, misi yang suci tentang kemanusiaan dan kealam semestaan untuk merefleksikan asma Allah

Selasa, 27 April 2010

AHMADIYYAH MENGHAPUS SUATU KESALAH PAHAMAN

Oleh: Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Al-Masih yang Dijanjikan dan Mahdi

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Beberapa anggota dari jemaatku yang hanya memiliki pengetahuan sedikit mengenai pengakuan dan dalil-dalilku untuk mendukung mereka, serta tidak memiliki waktu untuk mempelajari tulisan-tulisanku dengan teliti dan juga tidak tinggal cukup lama bersamaku untuk menyempurnakan pengetahuannya, adakalanya mereka itu memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terhadap tuduhan dari orang yang memusuhiku. Akibat yang tak terhindarkan adalah, meskipun mereka sedang berpijak pada jalan yang benar, mereka menderita pula penyesalan dan kehinaan


Baru-baru ini seorang Ahmadi dihadapkan pada suatu keberatan yang kurang lebih dikatakannya bahwa ia telah mengambil
bai’at kepada seseorang yang mengaku menjadi
nabi dan rasul

Ia menjelasan keberatan itu dengan sebuah sangkalan atas apa yang aku dakwakan. Jelasnya, jawaban seperti itu adalah tidak benar. Yang sebenarnya adalah bahwa wahyu suci dari Tuhan yang telah aku terima di dalamnya mengandung kata-kata sebagai
nabi dan rasul

Kata-kata tersebut ada di dalam wahyu-wahyu yang aku terima bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan ratusan kali. Dalam menghadapi wahyu-wahyu ini, bagaimana pula jawaban itu dapat menjadi benar, bahwa perkataan-perkataan itu tidak pernah terjadi sama sekali? Mengingat pada masa ini jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, kata-kata itu lebih sering terjadi dengan cara yang lebih cemerlang. Bahkan dalam Barahiin Ahmadiyya yang diterbitkan sekitar 22 tahun yang lalu, kata-kata tersebut banyak terdapat di dalamnya. Salah satu dari wahyu-wahyu yang diumumkan dalam Barahiin Ahmadiyya sebagai berikut:


HUWALLAZEE ARSALA RASOOLAHU BIL HUDAA WA DEENIL HAQQI LIYUZHIRAHU

yaitu “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, guna memenangkannya diatas agama-agama lainnya.” (Lihat hal. 498) Di dalam wahyu ini secara jelas aku telah dipanggil dengan nama rasul Juga di dalam kitab yang sama terdapat wahyu lainnya:

JARIYALLAH FI HALALUL ANBIYAA

yaitu “
Pahlawan Allah dalam pakaian nabi-nabi.”(Lihat hal. 504) Lagi, di dekat wahyu itu masih ada wahyu lainnya:

MUHAMMADUR-RASOOLULLAH WALLAZEENA MA'AHU ASHIDDAA' 'ALAL KUFFAARI RUHAMAA'U BAINAHUM yaitu,

Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang-orang yang ingkar (kuffar), tetapi lemah lembut di antara mereka sendiri.” Dalam wahyu ini, aku telah dipanggil dengan nama Muhammad dan rasul Kemudian lagi pada halaman 557, kita temukan wahyu:

DUNYA MAIN AIK NAZEER AAYA

yaitu “Di dunia telah datang seorang nadzir (yaitu orang yang memberi kabar pertakut).” Dan dalam satu
qira’at yang lain:

DUNYA MAIN AIK NABI AAYA
yaitu
“Di dunia telah datang seorang nabi.”
Sama halnya di beberapa tempat lainnya dalam kitab
Barahiin Ahmadiyya aku telah disebut sebagai nabi dan rasul

Jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
KHAATAMAN NABIYYIIN

(Meterai sekalian nabi), maka bagaimana bisa datang seorang nabi setelah beliau? Jawaban untuk ini adalah, tentu saja, tidak ada nabi baru atau lama yang dapat datang dalam arti sebagaimana yang kamu percayai mengenai kedatangan Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) dan kamu juga mempercayai kenabiannya serta kesinambungan wahyu yang diterima olehnya selama 40 tahun, lebih lama waktunya dari masa kenabian Rasulullah s.a.w. mendapat wahyu. Tidak diragukan lagi, kepercayaan dan akidah semacam itu memang durhaka betul. Dan ayat Al-Qur’an:

WA LAAKIR RASOOLULLAHI WA KHAATAMAN NABIYYIIN
yaitu
“akan tetapi ia adalah seorang Rasul Allah dan Meterai para nabi”serta Hadits

LA NABIYYA BA`DEE

yakni,
“tidak ada nabi sesudah aku [Muhammad s.a.w.]”
adalah bukti yang sempurna atas dusta dan kelirunya kepercayaan itu. Tetapi aku menentang keras kepercayaan itu dan percaya sepenuhnya kepada ayat Al-Qur’an
:
WA LAAKIR RASOOLULLAHI WA KHAATAMAN NABIYYIIN.
Dalam ayat ini tersimpan satu nubuatan
yang luput dari perhatian orang-orang yang menentangku. Adalah setelah diutusnya Nabi Suci s.a.w. ini, maka anugerah kenabian dari Tuhan akan tetap disembunyikan sampai hari akhir di dunia ini. Tidaklah mungkin bagi seorang manusia pun, apakah ia seorang Hindu, Yahudi, Kristen atau seseorang yang disebut Muslim untuk membenarkan penggunaan sebutan nabi bagi dirinya sendiri. Semua pendekatan kepada sebutan agung itu telah tertutup, kecuali satu, yaitu sirat-i-siddiqui [jalan shiddiqiya] yang sama artinya dengan meleburkan diri secara sempurna dengan penuh kecintaan kepada Rasulullah s.a.w. Dengan demikian, dia yang mencari kedekatan Tuhan melalui cara itu, akan dianugerahi jubah kenabian, yang tidak berarti apa pun kecuali sesuatu yang berasal dari milik kenabian Muhammad s.a.w. sendiri. Pendakwaan kenabian seperti itu tidaklah menyalahi kenabian Muhammad, hal itu dapat terjadi karena kenabiannya bukanlah secara mandiri atau pun berasal dari hidupnya sendiri. Ia mendapatkan semua kebaikan dalam dirinya bukanlah berasal dari dirinya sendiri melainkan dari Rasulullah s.a.w., sumber mata air semua rahmat. Oleh sebab itu kedudukannya sebagai nabi bukan untuk keagungan dirinya sendiri melainkan untuk kemuliaan dan kejayaan Nabi Muhammad s.a.w. Itulah sebabnya mengapa ia dikenal di langit sebagai Muhammad dan Ahmad. Walhasil ialah, bahwa kenabian Muhammad s.a.w. bagaimanapun juga kembali lagi kepada Muhammad s.a.w. dan tidak kepada orang lain. Seseorang yang mendakwakan kedudukan ini harus menyatakan semua kualitas yang ada pada dirinya adalah cerminan bayangan
(buruzi) dari Muhammad s.a.w. dan ia mengakui berhutang budi kepadanya. Dengan demikian ayat:

MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIN MIR RIJAALIKUM WA LAAKIR RASOOLULLAHI WA KHATAM-AN NABIYYEEN

yaitu
“Muhammad bukanlah bapak salah seorang diantara laki-lakimu akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi”
dapat ditafsirkan dengan:

LAISA MUHAMMADUN ABAA AHADIM MIR RIJAALUD DUNYAA WALAAKIN HUWA ABUR RIJAALUL AAKHIRATI LIANNAHU KHAATAMAN NA- BIYYEENA WA LAA SABEEL ILAA FAYOODULLA MIN GHAIRI TAUSATUH

yaitu
''Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di dunia ini akan tetapi ia adalah bapak bagi laki-laki di alam akhirat karena ia adalah khaataman-nabiyyiin dan tidak ada jalan untuk memperoleh karunia-karunia Tuhan kecuali melalui perantaraannya.”

Singkatnya, kenabianku ini adalah karena dijadikannya aku Muhammad dan Ahmad, dan [ini] bukan karena keinginanku sendiri: Aku telah menerima kedudukan [nama] ini karena peleburan diriku yang sempurna bersatu dengan Nabi Muhammads.a.w. [fana fir-rasul],dan oleh karena itu makna

KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai sekalian nabi) sama sekali tidak terganggu dengan kedudukanku ini. Namun kedatangan seorang nabi yang mandiri seperti Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) pastilah akan menjadi berbeda artinya dengan makna itu,Harus pula diingat bahwa perkataan nabi itu secara harfiah berarti orang yang menyatakan mendapat pengetahuan tentang khabar ghaib dari Tuhan. Di mana pun definisi ini masih tetap berlaku, di sini pula dituntut akan adanya seorang nabi,dan seorang nabi semestinya haruslah seorang rasul Jika ia bukan seorang rasul, maka khabar
ghaib yang bersih tidak dapat dilimpahkan kepadanya karena menurut ayat ini dinyatakan sebagai berikut:

LAA YUZHARA 'ALAA GHAIBIHI AHADAN ILLAA MANIRTADAA MINAR RASOOL
yaitu
“Allah tidak membukakan rahasia-rahasia-Nya kepada siapa pun juga kecuali kepada rasul-Nya.”Jika kita mempercayai bahwa tidak ada nabi yang akan dibangkitkan setelah Nabi Muhammad s.a.w. dalam arti bahwa ia akan ber nubuat dan mengatakan kejadian-kejadian masa depan, maka dapat berarti tercabutnya wahyu dan kedekatan dengan Tuhan dalam umat Nabi Muhammad s.a.w., karena definisi nabi hanya dapat digunakan kepada seseorang yang melaluinya rahasia-rahasia dari khabar ghaib dilimpahkan kepadanya sesuai dengan ayat

LAA YUZHARA 'ALAA GHAIBIH
Demikian juga dengan seseorang yang diutus oleh Tuhan dinamakan sebagai rasul

Perbedaan di antara keduanya adalah, bahwa tidak akan ada nabi yang membawa syari’at dapat datang setelah Nabi Muhammad s.a.w.; demikian pula, tidak seorang pun dapat meraih pangkat kenabian tanpa melalui perantaraan Nabi Muhammad s.a.w. dan ia menyatukan diri seutuhnya kepada wujud Nabi Muhammad s.a.w.
[fana fir-rasul] sehingga ia di langit dikenal sebagai Muhammad dan Ahmad. Ia yang mendakwakan diri sebagai nabi tanpa memenuhi syarat-syarat ini adalah seorang kafir

Arti dari ungkapan

KHAATAMAN NABIYYIIN
(Meterai sekalian nabi) menuntut bahwa selama adanya usaha pemisahan diri dari Nabi Muhammad s.a.w. sehalus apa pun, siapa pun yang kemudian mendakwakan menjadi nabi akan dijuluki sebagai orang yang memecahkan (merusak) Meterai yang ada dalam ungkapan

KHAATAMAN NABIYYIIN
(Meterai sekalian nabi). Akan tetapi jika seseorang yang benar-benar telah bersatu meleburkan dirinya dalam
“khaataman nabiyyiin,”menghilangkan usaha pemisahan dirinya serta menjadi pantulan dari semua keindahan dan kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w. bagaikan cermin yang bersih, ia akan disebut nabi tanpa memecahkan [merusak] Meterai milik Nabi s.a.w., karena ia adalah cerminan gambar Muhammad dan Muhammad Saw sendiri dalam bentuk zhilli [bayangan].

Jadi, meskipun seseorang mendakwakan menjadi nabi serta mendapat sebutan Muhammad dan Ahmad sedikit pun tidaklah bertentangan dengan martabat dan kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai

KHAATAMAN NABIYYIIN
(Meterai sekalian nabi) karena melalui peleburan diri yang sempurna bersatu dengan beliau s.a.w. [fana fir-rasul]

ia menjadi cermin dari Muhammad sendiri, gambar dirinya dan bahkan menyandang namanya. Tetapi Yesus Kristus (Nabi Isa a.s.) tidak dapat datang tanpa merusak Meterai milik Nabi s.a.w. karena kenabiannya adalah suatu bentuk kenabian yang berbeda. Dan, jika seorang pun tidak dapat meraih kenabian meski dalam arti menjadi buruzi[gambaran dan cerminan] Nabi Muhammad s.a.w., maka bagaimanakah ayat berikut ini dapat dijelaskan:

IHDINASSIRAATAL MUSTAQEEM SIRAAT ALLAZEENA AN'AMTA 'ALAIHIM
yakni
“tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka”
(QS.Al-Fatihah).
Hendaklah diingat bahwa aku tidak pernah ragu-ragu untuk mendakwakan kenabian dan kerasulanku menurut makna ayat itu. Adalah dalam makna ini pula Al-Masih yang Dijanjikan telahdisebut sebagai nabi dalam Hadits Shahih Muslim

Jikalau seseorang yang menyatakan mendapat khabar-khabar
ghaib dari Tuhan tidak berhak disebut sebagai nabi, maka dengan nama apakah ia akan disebut? Anggapan bahwa kata

MUHADDATS
adalah cukup untuk menjelaskan kedudukan ruhani seseorang, tidaklah didukung oleh kamus apa pun juga. Kata

TAHDITS
dalam bahasa Arab di dalam kamus apa pun tidaklah dijelaskan sebagai penguasaan dan pernyataan atas [terbukanya] rahasia-rahasia khabar ghaib
namun kata

NUBUWWAT
(Kenabian) mensyaratkan adanya suatu penguasaan atas rahasia-rahasia khabar ghaib Perkataan

NABI
adalah umum digunakan dalam bahasa Arab dan bahasa Yahudi. Dalam bahasa Yahudi kata

NABI
itu diambil dari kata

NABA
yang artinya adalah anugerah atas
nubuatan[khabar ghaib] yang diterimanya dari Tuhan.

Nabi
tidaklah mesti untuk mengemban atau membawa Syari’at baru.
Nabi hanyalah suatu anugerah Ilahi yang mana rahasia-rahasia khabar ghaib diwahyukan kepada seseorang.

Jadi, ketika aku sendiri telah menyaksikan sempurnanya penggenapan dari 150 buah khabar-khabar ghaib,maka bagaimana aku dapat menolak untuk menyebut diriku sebagai Nabi atau Rasul Allah? Allah Sendirilah yang telah memberikan nama-nama ini; siapakah aku ini yang berani menolak nama-nama itu atau mengapakah aku harus takut kepada orang yang menentang Tuhan?

Aku bersumpah dengan nama Tuhan yang telah membangkitkanku dan laknat-Nya akan jatuh kepada dia yang mengada-adakan dusta atas nama-Nya, bahwa Dia telah mengutusku sebagai
Al-Masih yang Dijanjikan ( Masih Mau’ud ). Dan keyakinanku atas terang benderangnya wahyu-wahyu yang aku terima sedikit pun tidaklah mengurangi keteguhan dan mengalahkan keyakinanku atas ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kebenaran akan wahyu yang telah Tuhan berikan kepadaku menjadi sangat nyata dengan diiringi tanda-tanda-Nya yang telah Dia tampilkan secara berurutan. Dan tidak ada sedikit pun keraguan padaku bersumpah disisi Ka’bah atas nama Tuhan bahwa wahyu suci yang diturunkan kepadaku adalah merupakan firman Tuhan yang sama, yang dahulu telah Dia turunkan kepada Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Bumi dan langit menjadi saksi atas kebenaran pendakwaanku. Bumi dan langit menyatakan bahwa aku adalah
Khalifatullah[Wakil Tuhan] di muka bumi ini. Namun, sebagaimana telah dikatakan dalam nubuatan

nubuatan
yang terdahulu, aku tentu akan ditolak oleh manusia. Orang-orang yang hatinya tertutup tentu tidak akan menerima aku. Tetapi aku tahu dan yakin bahwa Tuhan akan menolong aku, sebagaimana dahulu Dia selalu menolong rasul-rasul-Nya. Seorang pun tiada yang dapat melawan aku, sebab bantuan Tuhan tiada bersama mereka. Kapan pun dan di mana pun aku telah menolak disebut sebagai Nabi atau Rasul, hal ini hanya berarti bahwa dengan mendapatkan karunia keruhanian dari junjunganku yang mulia dan mendapatkan namanya, aku telah dianugerahi pengetahuan mengenai khabar-khabar ghaib. Tetapi aku ulangi lagi, bahwa aku tidak memperkenalkan atau membawa Syari’at baru dan aku tidak pernah menolak untuk disebut sebagai nabi dalam makna ini. Malahan dengan makna inilah Tuhan telah memanggilku dengan nama Nabi dan Rasul. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak menolak untuk disebut sebagai Nabi dan Rasul dalam makna tersebut. Perkataanku:

MAN NAISTAM RASOOL-O-NIYAA WARDA AMM KITAAB
yakni

aku bukanlah seorang Nabi dan tidak membawa kitab, tidaklah mengandung arti lain kecuali aku bukanlah seorang nabi yang membawa Syari’at. Tentu saja, hal ini seyogyanya juga harus diperhatikan dan jangan pernah dilupakan, bahwa kendati pun aku disebut Nabi dan Rasul

Tuhan telah memberitahukan kepadaku bahwa aku tidak menerima semua karunia dan anugerah keruhanian ini secara mandiri dan tanpa perantaraan seseorang. Tidak; di sana yang tinggal di langit ada suatu wujud suci (Nabi Muhammad s.a.w.) yang melalui dukungan keruhaniannya semua karunia Tuhan telah dilimpahkan kepadaku. Adalah melalui perantaraannya dan setelah meleburnya seluruh wujudku ke dalam Nabi Besar s.a.w. itu [
fana fir-rasul] dan telah dikenal sebagai Muhammad dan Ahmad, memang aku ini adalah seorang

RASULdan NABI

yaitu aku telah diutus dengan membawa misi dan telah diberkati dengan kemampuan mengetahui khabar-khabar ghaib
Dengan jalan inilah pendakwaan kenabianku sedikit pun tidak mengganggu kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai

KHAATAMAN-NABIYYIIN
(Meterai sekalian nabi), karena aku telah mendapatkan nama itu hanya dengan mencerminkan semua kesempurnaan Nabi Besar s.a.w. dalam diriku dan dengan meleburkan diriku sendiri dengan penuh kecintaan kepadanya. Jika ada orang yang merasa tersinggung karena di dalam wahyu-wahyu kepadaku ada menyebutkan bahwa aku ini seorang

NABI dan RASUL

maka orang itu tiada lain kecuali seorang yang bodoh, karena kenabian dan kerasulanku tidaklah menyalahi/merusak meterai, segel atau cap yang berasal dari Tuhan dengan cara apa pun juga. Jelaslah bahwa ketika aku menyatakan bahwa Tuhan telah memanggilku

NABI dan RASUL

dan para penentangku memiliki kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) akan datang ke dua kalinya dan menjadi seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w., tentang kedatangannya itu akan ada keberatan pula seperti halnya yang dikatakan kepadaku, yaitu merusak/mengganggu status Nabi Muhammad sebagai Meterai para nabi. Namun, apa yang aku kemukakan adalah, bahwa dipanggilnya aku sebagai

NABIdan RASUL

dalam arti kata yang sebenar-benarnya, setelah NabiMuhammad s.a.w. yang adalah

KHAATAMAN-NABIYYIIN
tidaklah ada sesuatu pun yang dapat menimbulkan keberatan dan tidak pula kenyataan ini dalam cara apa pun yang dimungkinkan dapat merusak/mengganggu kedudukan beliau s.a.w. sebagai

KHAATAMAN-NABIYYIIN
Berkali-kali aku katakan bahwa menurut ayat
Al-Qur’an:

WA AAKHAREENA MINHUM LAMMAA YALHAQOO BEHIM
yakni:
“Dan juga kepada kaum yang lain dari mereka yang yang belum berhubungan dengan mereka”(62:3). Aku adalah cerminan gambar sang

KHAATAMAN-NABIYYIIN
dan Muhammad sendiri dalam bentuk buruz
(bayangan). Dua puluh tahun yang lalu sebagaimana tersebut dalam

BRAHIIN AHMADIYYA
Tuhan menamakanku Muhammad dan Ahmad dan menyatakan kedatanganku menjadi kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Oleh sebab itu, kenabianku sama sekali tidaklah bertentangan dengan status Nabi Muhammad s.a.w. sebagai

KHAATAM-AL-ANBIYYA
karena bayangan itu tidak dapat dipisahkan dari aslinya dan dalam makna kiasan [inilah] aku adalah sama dengan Muhammad. Adalah dengan cara itu Meterai/Cap dari

KHAATAMAN-NABIYYIIN
tetap utuh dan bayangannya beliau s.a.w. ada dalam diriku yang memantulkan segala atribut dan kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w. Seseorang yang telah mendakwakan kenabiannya secara mandiri, dengan cara yang lain dan terpisah dari beliau s.a.w. adalah tidak dapat dibenarkan. Jika kamu menolak saya, maka kamu menolak Hadits-Hadits dari Nabi Muhammad s.a.w. yang mengatakan bahwa Mahdi yang Dijanjikan akan menyerupai kekuatan fisik dan ruhani seperti junjungannya sedemikian rupa, bahkan ia akan dikenal dengan nama yang sama seperti nama yang dikenal bagi Nabi Muhammad s.a.w. yaitu, ia akan disebut dengan nama Muhammad dan Ahmad serta termasuk dalam kalangan
ahlul bayt nya.

Hal itu juga telah disebutkan dalam beberapa Hadits bahwa ia [Mahdi] berasal dari [keturunan] saya [Rasulullahs.a.w.].
Hadits ini merupakan suatu indikasi yang kuat dari suatu kenyataan bahwa ia (Mahdi yang Dijanjikan) akan memperoleh bagian dari Nabi Muhammad s.a.w. dan akan menjadi manifestasi beliau s.a.w. secara ruhani. Pernyataan aku ini selanjutnya terlihat ditemukan adanya kenyataan bahwa kata-kata yang digunakan Nabi Muhammad s.a.w. untuk menandakan hubungannya yang erat dan kesamaan beliau dengan Mahdi yang Dijanjikan – Beliau s.a.w. menyebutnya dengan namanya sendiri – jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. menganggap Pembaharu yang Dijanjikan sebagai bayangan [ buruz] beliau s.a.w., sebagaimana:

Yoshua adalah buruz

Nabi Musa a.s. Tidaklah mesti buruz ini memiliki suatu hubungan darah, yaitu menjadi anak atau cucu, dengan orang yang digantikannya. Sepanjang adanya pertalian keturunan ruhani, hal itu merupakan suatu keadaan yang penting bahwa ia seharusnya menjadi suatu bagian dari orang yang digantikannya dan di antara ke duanya harus ada suatu hubungan timbal balik yang kekal dan saling berhubungan. Adalah sangat merendahkan Nabi Muhammad s.a.w. [jika orang berpikir] bahwa beliau telah mengabaikan aspek yang berhubungan dengan buruzi-nya yang memiliki pengertian yang jelas mengenai

BURUZ(bayangan) itu dan beliau mulai menekankan kenyataan bahwa buruzi-nya merupakan cucu keturunannya. Padahal, apakah hubungan antara cucu dengan buruz-nya?Jika hubungan ini sangat penting bagi seorang

BURUZ lalu mengapa Nabi Muhammad s.a.w. lebih suka memilih cucu, suatu pertalian [darah] yang jauh; anak seharusnya merupakan pilihan yang [lebih] alami. Tetapi firman Tuhan benar-benar telah menghilangkan kemungkinan Nabi Muhammad s.a.w. menjadi bapak bagi lelaki mana pun juga dalam arti jasmani, namun di sisi lain kedatangan seorang buruz telah dikhabarkan. Seandainya tidak ada buruz Nabi Muhammad s.a.w., lalu bagaimana murid-murid Orang yang Dijanjikan ini dapat disebut sebagai para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana disebutkan dalam ayat

WA AAKHAREENA MINHUM
dalam
Al-Qur’an? Dan jika kamu menolak kemungkinan datangnya seorang buruz,berarti kamu mendustakan ayat Al-Qur’an ini.

Orang yang hanya mampu menafsirkan suatu pernyataan secara harfiah terkadang mengatakan bahwa Orang yang Dijanjikan itu adalah dari keturunan Hassan r.a. atau Hussain r.a., dan di waktu lain adalah dari keturunan Abbas r.a. Akan tetapi, yang dimaksud oleh nubuatan Nabi Muhammad s.a.w. itu adalah demikian:

bahwa dia (Orang yang Dijanjikan) itu hanyalah akan menjadi ahli waris beliau s.a.w., sebagaimana anak menjadi ahli waris bapaknya. Ia akan mewarisi kebesaran namanya, keutamaan kedudukannya, keluasan ilmunya dan ketinggian ruhaninya. Singkatnya, dirinya akan merefleksikan segala aspek kemuliaan dan ketinggian pribadi Nabi Muhammad s.a.w. Ia akan menganggap semua kelebihan ini bukan berasal dari dirinya, melainkan akan diakuinya sebagai pinjaman dari Nabi Muhammad s.a.w. dan dengan meleburkan dirinya secara sempurna kepada junjungannya, maka wajah cantik junjungannya akan ditampakkannya kepada dunia. Jadi, hanya dengan menjadi buruz Nabi Muhammad s.a.w. sajalah, ia akan mewarisi namanya, ilmu serta atribut keruhaniannya, dengan demikian ia[juga] akan mewarisi pangkat kenabian beliau s.a.w. Seorang buruz

tidaklah lengkap jika ia tidak menampilkan tiap keutamaan dan kesempurnaan model aslinya. Karena nubuat itu merupakan atribut dari seorang nabi, adalah sudah sewajarnya pula buruzi-nya memiliki atribut [nubuat]sebagaimana model aslinya.

Dalam soal ini semua nabi telah sepakat bahwa buruz
[bayangan] adalah merupakan gambar yang sempurna dari model aslinya sedemikian rupa, sehingga pengganti yang datang akan dikenal seperti nama yang sama seperti sebelumnya. Jadi, jelaslah bahwa hanya dalam suatu pengertian kiasanlah penggunaan nama Muhammad dan Ahmad oleh seorang ahli waris ruhaniah, tidaklah menunjukkan adanya dua Muhammad dan dua Ahmad, demikian pula halnya dengan pendakwaan kenabian sebagai buruz

sekali-kali tidaklah merusak kesucian Meterai/Cap dari

KHAATAMAN-NABIYYIIN,
karena buruz itu tidak dapat dianggap berbeda dan terpisah dari model aslinya. Dengan cara ini kenabian Muhammad s.a.w. tetap bersama Nabi Muhammad s.a.w. Para nabi sepakat bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya. Kedudukan

BURUZ
(bayangan) ini digambarkan dengan sangat jelas dalam bait:

MAN TO SHUDM TOW MAN SHUDEE, MAN TAN SHUDAM

TO JAAN SHUDEE TAA KISS NAGWEED BA'D AZEEN, MAN DEEGARAM TO DEEGAREE
yaitu:
“aku menjadi engkau dan engkau menjadi aku. Aku menjadi tubuh dan engkau-lah jiwa. Supaya tak seorang pun mengatakan kemudian bahwa aku berbeda dari engkau.”Akan tetapi, jika Yesus Kristus (Nabi Isa a.s.) kembali ke dunia ini, ia tidaklah dapat berbuat banyak tanpa mengganggu Meterai/Cap dari

KHAATAMAN-NABIYYIIN

Singkatnya, perkataan
KHAATAMAN-NABIYYIIN
merupakan suatu Meterai/Stempel Ilahi
yang dicapkan di atas kenabian Muhammad s.a.w. Adalah tidak mungkin bahwa cap itu akan menjadi rusak. Namun, adalah sangat dimungkinkan Nabi Muhammad s.a.w. dapat datang ke dunia ini tidak hanya sekali atau dua kali bahkan beratus-ratus kali dalam wujud seseorang yang merefleksikan semua atribut Nabi Muhammad s.a.w. dan menjadi cerminan atau buruz
serta menampilkan sifat-sifat beliau lainnya dalam dirinya. Ringkasnya, ungkapan

KHAATAMAN-NABIYYIIN
juga merupakan suatu Meterai/Stempel
Ilahi pada kenabian.Keadaan menjadi buruz-nya Nabi Muhammad s.a.w. ini merupakan pangkat yang diberikan Tuhan, sebagaimana terlihat dengan jelas pada ayat:

WA AAKHAREENA MINHUM LAMMAA YALHAQOO 22
BEHIM
yaitu:
“Dan juga kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka”(62:3). Para nabi tidak pernah cemburu terhadap buruzi-nya, karena buruz
itu pada akhirnya adalah cerminan rupa mereka dan membawa tanda cap/stempel mereka. Namun, secara alami mereka akan cemburu kepada yang bukan buruz-nya.

Lihatlah! Bagaimana Nabi Musa a.s. mengungkapkan kecemburuannya dan tidak dapat menahan air matanya ketika mengetahui Nabi Muhammad s.a.w. telah melampaui [kedudukan/derajat] nya pada suatu malam Mi’raj

Jadi, ketika Tuhan Sendiri berfirman kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa tidak ada seorang nabi yang akan datang setelah beliau dan kemudian menyalahi janji-Nya dengan mengutus Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) – bagaimana sedih dan malunya Nabi Muhammad s.a.w. menghadapi kenyataan ini. Singkatnya, kenabian dalam bentuk buruz -nya Nabi Muhammad s.a.w., dalam cara apa pun tidaklah bertentangan dengan kenabian Muhammad s.a.w. dan juga tidak merusak martabat Nabi Muhammad s.a.w. sebagai

KHAATAMAN-NABIYYIIN
(Meterai para nabi). Akan tetapi, kedatangan seorang nabi mandiri yang mendapatkan kenabiannya secara mandiri [tidak berasal dari Nabi Muhammad s.a.w.] akan meruntuhkan fondasi Islam. Hal ini akan menodai Nabi Muhammad s.a.w., bahwa untukmenyelesaikan tugas besar menghancurkan dajjal(anti Kristus) akan dilakukan oleh Nabi Isa a.s., bukannya oleh Nabi Muhammad s.a.w. Adanya kenyataan itu – semoga Tuhan melindungi (na’udzubillah) menunjukkan kedustaan ayat:

WALAAKIR RASOOLULLAHI WA KHAATAMAN-NABIYYIIN
yaitu
“dan ia adalah Rasulullah dan Meterai para nabi”(33:40). Dan di dalam ayat ini ada suatu nubuatan yang tersembunyi bahwa suatu cap/meterai telah diletakkan di atas kenabian sampai hari kiamat dan kecuali seorang buruz Nabi Muhammad s.a.w., tidak seorang pun akan dianugerahi rahasia-rahasia Ghaib seperti [yang dianugerahi kepada] para nabi Tuhan. Dan sebagaimana aku adalah Orang yang Dijanjikan itu – yang ditakdirkan untuk menjadi cerminan sempurna Nabi Muhammad s.a.w. dan buruz-nya, untuk itulah kepadaku telah dikaruniakan kenabian yang hanya [dalam bentuk] suatu BURUZ(bayangan) dari Nabi Muhammad s.a.w. saja yang bisa didapatkan.

Sekarang, seluruh dunia tidak berdaya untuk menghalangi jenis kenabian yang telah di cap/meterai-kan ini. Seorang buruzi sejati Nabi Muhammad s.a.w. telah ditakdirkan hadir di Akhir Zaman dan ia telah hadir [untuk] menampilkan dalam dirinya semua kesempurnaan dan keunggulan Nabi Muhammad s.a.w. Saat ini, tidak ada jalan terbuka yang masih tersedia untuk diminum kecuali melalui pancuran mata air kenabian Muhammad s.a.w. ini.

Ringkasnya, kenabian yang seperti itu tidaklah merusak Meterai/Cap KHAATAMIYAT

Akan tetapi, datangnya Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) bukan hanya merupakan suatu penolakan dari ayat:

WA LAAKIR RASOOLALLAHI WA KHAATAMAN-NABIYYIIN
namun juga menyebabkan rusaknya Meterai/Cap itu. Adanya ajaran [doktrin] yang jelas tidak masuk akal dan tidak berdasar ini tidak mendapat dukungan dari Al-Qur’an Bagaimana doktrin ini dapat dimungkinkan ketika kepercayaan yang seperti itu berlawanan dengan ayat Al-Qur’an yang disebutkan di atas. Namun, datangnya seorang nabi yang mempercayai kenabiannya berasal dari Nabi Muhammad s.a.w. adalah didukung oleh Al-Qur’an Suci dan ayat

WA AAKHAREENA MINHUM
menjadi saksi bagi hal itu. Ayat ini juga berisi suatu isyarat yang indah, di mana ayat ini menyebutkan golongan [akhir] yang telah dianggap sebagai Sahabat-Sahabat (Nabi Muhammad s.a.w.), namun tidak dicantumkan secara khusus bahwa melalui perantaraan buruz itu, yakni melalui Masih Mau’ud,para muridnya dimasukkan di antara golongan para Sahabat dan mereka[golongan akhir] tidak dianggap seperti para Sahabat [awal] yang mendapatkan bimbingan ruhani [langsung] dari Nabi Muhammad s.a.w. Tidak adanya pencantuman ini menunjukkan secara khusus

bahwa buruz ini memiliki keadaan ruhani yang bergantung pada Nabi Muhammad s.a.w. dan kenabian serta kerasulannya yang merupakan suatu pinjaman, tidaklah mengganggu kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai

KHAATAMAN-NABIYYIIN
Inilah sebabnya mengapa ayat itu memperlakukan buruz itu dengan tidak menyebutkannya dan membatasi penyebutannya hanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. saja. Demikian pula dengan ayat:

INNA A'TAINAA KAL KAUTHAR
yaitu,
“sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan”– ada suatu nubuatan mengenai tampilnya seorang buruz yang akan dimanifestasikan pada zaman

KAUTHAR
(berlimpah-limpahnya kebaikan), memang demikianlah, air mancur keruhanian yang penuh berkah akan mulai mengalir dan kaum yang beriman dalam Islam akan berlimpah jumlahnya. Bahkan dalam ayat ini, penyebutan mengenai masalah [keturunan] jasmani telah diabaikan dan yang telah ditampilkan hanyalah suatu nubuatan

mengenai keturunan ruhani (dari Nabi Muhammad s.a.w.) Walaupun Tuhan telah menganugerahkan kehormatan ini kepadaku di mana mengalir darah Israil dan Fatimah dalam pembuluh darahku, namun aku lebih mengutamakan aspek hubungan ruhani dengan Nabi Muhammad s.a.w. Hubungan keruhanianku dengan beliau adalah suatu hubungan seorang
buruz(bayangan) dengan model aslinya.

Sekarang aku telah menjelaskan hal ini untuk menunjukkan bahwa para penentangku yang bodoh menuduhku karena aku mendakwakan memiliki kenabian dan kerasulan yang berdiri sendiri. Aku tidak pernah membuat pendakwaan seperti itu, dan juga aku tidak menyatakan diriku menjadi seorang
Nabi atau Rasul dalam pengertian seperti yang biasa mereka gunakan pada kata [nabi dan rasul] itu.

Akan tetapi aku adalah seorang Nabi dan Rasul dalam pengertian yang telah aku jelaskan di atas. Demikianlah, orang yang datang menuduhku dengan rasa dengki karena aku mendakwakan memiliki kenabian dan kerasulan seperti itu [berdiri-sendiri atau membawa Syari’at

maka ia menurutkan hati dan pikirannya dalam suatu kedustaan dan kekotoran. Aku adalah seorang Nabi dan utusan Tuhan karena aku adalah cerminan dari Nabi Muhammad s.a.w. serta buruzi-nya dan hanya berdasarkan hal inilah Tuhan telah menamaiku Nabi dan Rasul dalam bentuk

BURUZ
berkali-kali. Diriku sendiri tidak ada. Diriku telah diliputi Nabi Muhammad s.a.w. Itulah sebabnya aku dinamakan Muhammad dan Ahmad. Jadi, kenabian dan kerasulan Muhammad s.a.w. tetap beserta beliau dan tidak dialihkan kepada orang lain.

MIRZA GHULAM AHMAD, Qadian, 5 November 1901.
Selebaran ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu dan terbit pada tahun 1901. Selebaran ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Malik Ghulam Farid, M.A. dan muncul dalam majalah bulanan Review of Religions. Selebaran telah disalin dari versi yang diterbitkan oleh Sadr Anjuman Ahmadiyah, Qadian,pada tahun1974.
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia bersumber dari:
http://www.alislam.org/books/misunderstandingremoved.html

art

art
rose

menara putih

menara putih
The White Minaret at Qadian

baihisti maqbarah

baihisti maqbarah
pekuburan ahmadiyyah

jamaah ahmadiyyah

jamaah ahmadiyyah
rabwah

ahmadiyyah

ahmadiyyah
jalza salanah

ahmadiyyah

ahmadiyyah
rabwah